Wayang Sandosa

Dilatarbelakangi  adanya gagasan pengindonesiaan wayang yang dilontarkan pada Pekan Wayang Nasional II tahun 1974 di Jakarta. Polemik di media massa mengundang pendapat pro dan kontra dengan alasan masing-masing. Sementara ada sebagian masyarakat yang tidak setuju adanya pengindonesiaan wayang. Mulai tahun 1975 ASKI dan Pusat Kebudayaan Jawa Tengah di Surakarta telah banyak mencoba mencari bentuk sajian yang mungkin dapat menjadi alternative sebagai jawaban atas gagasan itu. Namun karena keterbatasan yang ada hampir semua usaha yang dilakukan ASKI dan PKJT itu hasilnya kurang memberikan kepuasan. Akhirnya, usaha itu praktis terhenti sekitar tahun 1977.

Hambatan yang dihadapi terutama menyangkut masalah teknik penyajian. Hal ini terjadi karena hampir semua penggarap menghadapi kesulitan untuk meranggalkan pola-pola sajian yang telah mentradisi. Sehingga garapan cerita, pola adegan, garapn sabet (gerak wayang), penyajian tutur (dialog dan narasi), karawitan iringan dan sebagainya masih berpedoman pada cara-cara konvensional. Selanjutnya hasil yang dicapai kadang-kadang terasa janggal bahkan cukup menggelikan.

Seiring dengan usaha untuk mencari bentuk pergelaran wayang dengan menggunakan bahasa Indonesia di ASKI dan PKJT Surakarta sedang dikembangkan bentuk pergelaran wayang yang sekarang dikenal dengan istilah : Pakeliran Padat. Almarhum S.D. Humardani sebagai pemimpin kedua lembaga di atas menerapkan gagasannya tentang pakeliran padat itu kepada para cantriknya. Konsep pakeliran padat inilah yang menjadi acuan awal dalam hal teknik menggarap Wayang Layar Lebar ‘Sandosa” selanjutnya.

Konsep pakeliran padat lebih menekankan pada segi estetis pergelaran wayang, sehingga hal-hal lain yang dirasakan hanya merupakan sampiran sementara dihindari. Dengan demikian memberikan keleluasaan kepada seniman untuk mengekspresikan dirinya.

Pada tahun 1981 ASKI Surakarta mengirimkan dua grup kesenian ke Inggris (mengikuti festival music di Durham) dan ke Perancis (mengikuti festival teater boneka), praktis yang tinggal di kampus hanya sedikit dan tergolong orang-orang yang kurang berpotensi di bidang praktek berkesenian, termasuk saya. Orang-orang tak berpotensi itu diundang untuk memeriahkan suatu pekan seni yang diselenggarakan Taman Budaya Jawa Tengah di Surakarta. Akhirnya disepakati untuk mengadakan eksperimen satu bentuk sajian wayang dengan menggunakan medium bahasa Indonesia.

Bentuk eksperimen itu dengan kelakar dinamakan “Sandosa”, yang merupakan akronim bahasa Indonesia ; nama itu populer di kalangan ASKI dan Taman Budaya Jawa tengah di Surakarta, tetapi kurang dikenal oleh masyarakat luas.

Berdasarkan usaha-usaha yang dilakukan sebelumnya bahwa bentuk sajian pengindonesiaan wayang kurang memberikan kepuasan, maka diusulkan kepada kelompok tujuh –terdiri dari Kuwato, Sujani, Mujiono, Sulianto Sri Mulyono Ds, St. Wiyono, Catur Tulus dan Bambang Murtiyoso harus berani meninggalkan cara-cara konvensional. Oleh karena itu penggarapannya pun harus menyeluruh, tidak hanya masalah bahasa, tetapi juga seting, gerak wayang (sabet), penyuaraan dialog dan narasi, iringan karawitan dan lain-lainnya termasuk alur ceritanya.

Berdasarkan usul tadi akhirnya disepakati layar harus ditinggikan untuk mewadahi volume sabet yang akan ditampilkan, dalam pelaksanaannya pada waktu itu bingkai layar wayang (gawang kelir) diangkat dan diletakkan di atas meja. Para pemain wayang semuanya berdiri, diusahakan bayangan pemain tidak muncul di layar.

Lakon pertama yang digarap dalam bentuk ini adalah Wibisana Tundhung. Naskah digarap oleh Sujani dan dibantu St. wiyono beserta Sulianto Sri Mulyono Ds. Garapan sabet bersama sewaktu latihan tanpa iringan (“garingan”). Setelah mempunyai bentuk global, Kuwato dan Catur Tulus diserahi untuk menyusun iringan/karawitannya. Repertoar gending masih dipilih gending-gending dan suluk wayang tradisi yang dikembangkan volume, irama dan intensitas penyajiannya. Garapan I ini belum mengenal penyutradaraan sehingga merupakan hasil komulatif para kelompok tujuh tadi.

Para pemegang wayang dalam garapan I ini masih merangkap sebagai pembawa dialog wayang : pembawa narasi (janturan dan pocapan) dilakukan oleh St. Wiyono sendiri. Dalam garapan ini masih menggunakan “keorek” dan sulukan dalang.

Setelah rombongan ASKI dari Eropa datang, para orang-orang terpilih diminta untuk menyaksikan hasil eksperimen tadi agar memberikan evaluasi. Atas anjuran S.D. Humardani layar perlu diperluas. Akhirnya lebar layar menjadi 3,5 meter dan panjang menjadi 7 meter. Selain itu unsur-unsur lainnya juga dianjurkan untuk lebih digarap secara canggih.

Dengan kehadiran Bambang Suwarno –yang menonjol dalam hal sabet di lingkungan ASKI Surakarta- berbareng dengan proses garapan II (lakon Karna Tanding) untuk menghadapi Festival Seni IKI (Institut Seni Indonesia) yang ke IV/1983 di Surakarta, mulailah digarap secara professional.

Mulai garapan II ini penyutradaraan dirasa perlu, sebab jumlah kerabat kerjanya terhitung sangat besar ; terdiri dari 12 dalang (pemegang wayang dan pembawa vocal wayang), 11 pemain gamelan, tiga orang narrator, tiga orang penata lampu dan seorang sutradara.

Dalam garap II ini sudah tidak lagi menggunakan kecrek dan jarang menampilkan sulukan. Secara khusus gending digarap oleh Blacius, busana dan naskah oleh Mujiono dan Bambang Murtiyoso, sabet digarap Bambang Suwarno, sutradara ditangani Kuwato.

Sekalipun hasilnya masih kurang memuaskan karena waktu sajian dibatasi 20 menit, tetapi garapan II ini sudah menunjukkan bentuk yang mungkin dicari selama ini. Kenyataan garapan kedua ini yang kemudian berkembang hingga mempengaruhi garapn selanjutnya.

Karena dipublikasikan secara luas oleh media massa pada waktu kegiatan Festival IKI-IV itu maka Panitia FFI (Festival Film Indonesia) tahun 1984 di Yogyakarta pun berminat untuk menampilkan “Sandosa”. Dari pemunculannya di FFI 1984 ini karya baru itu kemudian disebut dengan nama : Wayang Layar Lebar. Pada tahun berikutnya (1985) Wayang Layar Lebar ini menjadi lebih populer di kalangan masyarakat film, karena diberi kesempatan muncul pada FFI 1985 di Bandung.

Untuk memeriahkan FFi 1984 disajikan garapan III naskah dan sutradara ditangani oleh Sumanto dengan lakon Dewa Ruci. Karawitan digarap Blacius Subono, sabet Bambang Suwarno dan penata lampu Bambang Murtiyoso. Mulai garapan III ini digunakan pencahayaan warna-warni yang diharapkan dapat lebih memantapkan ekspresi gerak wayang. Kecuali itu, sebagian tangkai wayang pelru diperpanjangkan untuk mengurangi kesulitan tehnik sabet yang terjadi pada garapan sebelumnya.

Garapan IV menyajikan lakon Ciptaning, naskah dikerjakan oleh I Nyoman Murtana dan Trisno Santosa, sutradara Sumanto, garapan sabet Bambang Suwarno, garapan iringan Blacius Subono dan penata lampu Bambang Murtiyoso. Dalam garapan IV ini hampir semua penyampaian dialog dan narasi dilakukan oleh orang-orang khusus, tidak dirangkap oleh pemain wayang seperti garapan sebelumnya.

Berdasarkan pengalaman dalam menggarap karya baru Wayang Layar Lebar “Sandosa” selama ini, ada beberapa hambatan yang dihadapi.

  • Pertama, adanya asumsi setiap pemunculan harus ‘hebat’, maka proses terwujudnya memerlukan persiapan/latihan yang sangat lama (paling tidak tiga bulan ; setiap hari masing-masing empat jam).
  • Kedua, karena dibutuhkan kerabat kerja yang begitu banyak (33 orang) diperlukan kordinasi yang ketat antar komponen (sabet, dialog dan narasi, pencahayaan, iringan dan sebagainya).
  • Ketiga, diperlukan penyusunan naskah yang akrab dengan bahasa Indonesia sebagai ekspresi seni sekaligus mengenal dunia wayang.
  • Keempat, kurang dapat banyak tampil di masyarakat karena dibutuhkan dana besar yang selalu menghantui setiap proses garapan baru.

Disebabkan oleh empat hambatan itu, maka kesempatan untuk dapat lebih produktif sering tidak dapat terlaksana. Keinginan untuk lebih mengembangkan selalu tumbih, namun selalu gagal di dalam pelaksanaan. Dalam benak saya muncul gagasan untuk lebih dikembangkan misalnya : pembuatan figur wayang baru (karakter tetap dipertahankan tetapi ornamen/tatahan dan jenis-jenisnya perlu disederhanakan serta ditambah jumlahnya). Kecuali tehnik penyinaran masih harus didukung oleh banyak peralatan modern lainnya, karakter wayang agar lebih ekspresif, misalnya menggunakan sinar laser, diperlukan pula para kerabat kerja yang memahami benar tentang seluk-beluk pengetahuan tata cahaya pentas.

Dengan tidak ada maksud untuk bersaing dengan bentuk sajian tradisi yang ada, sebenarnya Wayang Layar Lebar “Sandosa” diharapkan dapat memberikan jawaban sementara akan kejenuhan yang ada di kalangan penggemar tertentu.

Selain itu juga diharapkan dapat memberikan satu bentuk alternative dalam pembaruan/pengembangan wayang kita yang tercinta. Di ASKI Surakarta mempunyai keyakinan bahwa setiap usaha pengembangan/pembaruan sajian wayang selalu harus diacu oleh bentuk wayang tradisi yang telah mencapai puncak karya di masa lampau. Dengan demikian kualitas garapan harus dijadikan pusat semua ide yang tumbuh. Oleh karena itu dibutuhkan para pembaharu yang kreatif dan tidak sekedar mengadakan pembaruan asal demi pembaruan, apalagi untuk melayani selera penonton yang miskin apresiasinya.

Mudah-mudahan usaha ini mendapatkan tanggapan di kalangan luas, terutama para pecinta pewayangan. Sebab, mati hidupnya pedalangan/pewayangan saat ini dan mendatang terletak di tangan kita, para pecinta pewayangan/pedalangan.

Semoga tulisan ini dapat memberikan gambaran dan menambah akrab pengenalan para pembaca terhadap suatu usaha baru yang sedang berproses. Dengan demikian dapat menjadi acuan bagi para innovator di bidang pewayangan dan/atau pedalangan (Bambang Murtiyoso dalam Majalah Gatra No. XVIII 1988: 19-20 &30))