Munculnya wayang Golek Pakuan-Bogor atas ide seorang budayawan Bogor, Budiman Mahadika. Ide itu terinspirasi ketika Budiman Mahardika berjalan melewati situs Batu Tulis pada tahun 2009, sehingga muncul gagasan membuat cerita sejarah Pajajaran untuk dipentaskan dalam pertunjukan wayang Golek. Gagasan tersebut disampaikan kepada ayahnya, Ki Zakir Ismail seorang dalang wayang Golek yang cukup terkenal di Bogor. Pertama kali cerita yang dibuat yakni “Munding Laya Dikusuma” . Cerita tersebut lalu dipentaskan oleh ayahnya Ki Zakir Ismail pada saat memperingati Hari Jadi Kabupaten Bogor tahun 2010 di kampung Curug Mekar, Bogor. Dari pementasan tersebut Ki Zakir Ismail mendapat kritikan dari Kepada Dinas Pariwisata Kabupaten Bogor karena mengangkat cerita sejarah tetapi masih menggunakan perangkat boneka wayang Golek Purwa. Dari kritikan tersebut munculah gagasan Ki Zakir Ismail membuat boneka wayang Golek khusus yang disesuaikan dengan tokoh-tokoh yang muncul dalam cerita sejarah Pajajaran tersebut.
Ki Zakir Ismail satu persatu membuat gambar tokoh-tokoh yang muncul dalam wayang sejarah Pajajaran. Setelah mendapat rekomendasi dari anaknya, gambar tersebut lalu dibawa ke pengrajin wayang Jaya Gumilar di Cikaret Bogor. Dalam waktu kurang dari satu tahun, Jaya Gumilar telah menyelesaikan 60 tokoh wayang Golek Sejarah/Pakuan.
Pada tahun 2010 Ki Zakir Ismail mementaskan Wayang Golek Pakuan yang ke-2 dalam rangka orang punya hajatan sunatan dari keturunan raja Bone, di Bogor. Pada pentas ke-2 tersebut Ki Zakir Ismail sudah menggunakan boneka wayang Golek Pakuan hasil kreasinya dengan mengambil cerita “Sinatria Gagak Lumayang”. Dari pentas tersebut, wayang Golek Pakuan mulai mendapat tanggapan pemerintah daerah dan masyarakat Bogor. Dalam rangka Hari jadi Kota Bogor tahun 2011 Ki Zakir Ismail diminta pentas wayang Golek Pakuan. Dan Pada tahun 2013 dalam rangka Hari Jadi Kota Bogor, Ki Zakir diundang lagi untuk pentas Wayang Golek Pakuan dengan cerita “Muding Layang Dikusuma”. Masyarakat Bogor mulai menyenangi wayang Golek Pakuan, menurut Ki Zakir Ismail karena masyarakat ingin mengetahui jalan ceritanya berbeda dengan wayang Golek Purwa yang ceritanya sudah banyak diketahui. Panggilan pentaspun mengalir baik dalam acara tujuhbelasan maupun orang punya hajatan Saat dilakukan penelitian Ki Zakir Ismail mementaskan Wayang Golek Pakuan di Ciheram, Bogor pada tanggal 20 April 2010 dalam rangka orang punta hajatan/pernikahan.
Bermula dari kritikan Kepada Dinas Pariwisata Babupaten Bogor, Ki Zakir Ismail mulai merancang gambar boneka wayang yang disesuaikan dengan tokoh-tokh yang muncul dalam cerita wayang Golek Pakuan. Berlatar belakang pelukis tentu tidak mengalami kesulitan bagi Ki Zakir Ismail untuk menggambar. Boneka wayang Golek pakuan tersebut raut muka maupun asesoris yang dipakai sangat berbeda dengan wayang Golek Purwa.
Sampai saat ini (2014) ketika penelitian berlangsung sudah ada 60 tokoh boneka wayang Golek Pakuan hasil kreasi Ki Zakir Ismail antara lain :
- Prabu Siliwangi (Raja Pajajaran)
- Nyi Ambet Kasih (istri Prabu Siliwangi)
- Nyi Subang Larang (istri Prabu Siliwangi)
- Nyi Kentring Manik Mayang Sunda (istri Prabu Siliwangi)
- Nyi Mas Linggang Pakuan (istri Prabu Siliwangi)
- Walangsungsang (anak ke-1 Prabu Siliwangi x Nyi Subang Larang)
- Raden Gurugantangan (Walangsungsang ketika masih kecil)
- Rara santang (anak ke-2 Prabu Siliwangi x Nyi Subang Larang)
- Pangeran Sengara (anak ke-3 Prabu Siliwangi x Nyi Subang Larang)
- Surawisesa (anak ke 1 Prabu Siliwangi x Nyi Kentring Manik Mayang Sunda)
- Munding Laya Dikusuma (anak ke-2 Prabu Siliwangi x Nyi Kentring Manik Mayang Sunda).
- Pangeran Sarosahan (anak ke-3 Prabu Siliwangi x Nyi Kentring Manik Mayang Sunda)
- Prabu Linggabuwana (raja Sunda)
- Rara Linsing (istri Prabu Linggabuwana0
- Rakean Mangkubumi Bunisora Suradipati (Perdana Menteri)
- Rakean Anapakem (patih)
- Rakean Buyutmantri (Patih)
- Dewi Citraresmi Dyah Pitaloka (anak)
- Niskala Wasu Kencana (anak)
- Arya Rangga Gading (Patih Pajajaran)
- Arya Taji Malela (Patih Pajajaran)
- Arya Natadani (Patih)
- Arya Kidang Pananjung (Patih)
- Arya Kidang Kencana (patih)
- Arya Gelap Nyawang (Patih)
- Girindra Jaya wardana (Raja Majapahit)
- Guntur Bumi (patih)
- Begawan Layung Kemendung (Guru Kian Santang)
- Ki Gedeng Tapa (Mertua Prabu Siliwangi)
- Ki Gedeng Kawung Anten (mertua Syarif Hidayatullah)
- Nyi Mas Kawung Anten
- Maulana Hasanuding (anak sunan Gungjati)
- Dewi Winahon (adik Maulana Hasanudin)
- Pangeran Jayakarta anak pangeran Huda dari Pasai)
- Amuk Marugal (anak Kentring Manis Raja Japura Cirebon)
- Ali Murtada (murid Syek Abdul Qodir Jaelani)
- Gajahmada (Patih Majapahit)
- Hayam wuruk (Raja Majapahit)
- Jonggrang Kalapitung (ombak besar)
- Dewi Pohaci Wirumanangge (Bidadari)
- Guriang Tuju (Simbol Jenderal Aponso)
- Acining Bumi
- Acining Hawa
- Aciningg Air
- Acining Api
- Sabdopalon
- Cepot
- Dawala
- Roh Kian santang
- Dewi Rengganis (pacar Kian Santang)
- Dewi Kinawati (pacar Surawisesa)
- Naga Samudra
- Paksi Nagaliman
- Maung Lodaya
- Elang (burung)
- Sewu Raksa (perampok)
- Raksa Pati (perampok)
- Aki Panyumpit (pemburu)
- Panah Kilat Mahendra
- Gunungan
Sumber lakon yang dipakai wayang Golek Pakuan adalah cerita sejarah Pejajaran dengan tokoh utama Prabu Siliwangi. Pakuan Pajajaran atau Pakuan (Pakwan) atau Pajajaran adalah ibu kota Kerajaan Sunda Galuh yang pernah berdiri pada tahun 1030-1579 M di wilayah barat pulau Jawa.
