Wayang Golek Menak Kebumen

Adalah salah satu jenis wayang golek yang sumber ceritanya bersumber pada Hikayat Hamzah, Regester Menak baik yang berbentuk sekar maupun gancaran yang terdiri dari 24 episode. Cerita-cerita tersebut berkembang turun-temurun secara tradisi lisan. Cerita menak yang terdapat di Kebumen juga berkembang karena kreativitas dalang yang melakukan inovasi cerita dengan menambah lakon-lakon carangan sesuai dengan kemampuan dalang masing-masing, dengan demikian dimungkinkan ada perbedaan lakon dari dalang yang satu dengan dalang yang lain.

Wayang Golek Menak Kebumen berbentuk tiga demensi. Bahan utama pembuatan kepala, badan, dan tangan dari kayu jaranan, weru, atau sengon laut. Busana bagian atas menggunakan kain beludru yang dihias manik-manik payet, dan benang emas, sedangkan busana bawah biasanya menggunakan kain bermotif batik. Sampur menggunakan kain jenis sifon, bisa juga menggunakan kain santung. Gapit atau tangkai wayang sebagai pegangan, sekaligus poros penggerak kepala tersebut dari bambu, kayu pinang, dan sejenisnya. Demikian juga tuding yang digunakan sebagai alat untuk menggerakkan tangan. Pewarnaan wayang menggunakan bahan baku dari cat tembok yang dicampur dengan lem kayu dan inti warna (pigmen).

Wayang Golek Kebumen dipertunjukkan untuk upacara perhelatan seperti khitanan, pernikahan, kelahiran dan sebagainya, juga dipertunjukkan dalam rangka upacara tradisi desa bersih dusun, dan acara-acara pemerintah.

Cerita Menak di Jawa paling awal diperkirakan berasal dari zaman pemerintahan Sultan Agung Mataram (1613 – 1645), dari sumber Melayu diperkirakan bahwa penulisan Menak terjadi pada abad XV dan XVI. Hal ini didasarkan pada penggunaan kata Menak Jingga dalam Serat Damarwulan, dalam sastra jawa pertengahan, yaitu sastra kidung, telah terdapat kata menak yang berarti berbudi luhur, mulia, tampan dsb. Hal ini dapat diperkirakan bahwa penulisan dari sumber Melayu kemungkinan dibuat pada abad XV atau XVI. Cerita menak tersebut luas dikenal melalui saduran R.Ng Yasadipura I, Ia mendasarkan karyanya pada versi Kartasura tulisan Ki Carik Narawitan. Tulisan-tulisan yang dianggapnya masih sederhana kemudian dikembangkan oleh R. Ng Yasadipura I dengan perluasan-perluasan, dan penambahan-penambahan, kendati demikian garis besar cerita masih sangat dekat dengan sumber cerita Melayu. Balai Pustaka mencetak cerita Menak dalam tulisan Jawa berdasarkan naskah versi macapat antara th 1933 s/d 1941 M dari teks Yasadipura I dalam 24 bagian (46 jilid) Bagian-bagian tersebut masing-masing diberi nama berdasarkan tokoh utama atau tempat yang paling penting, yaitu:

  1. Menak Sareh.
  2. Menak Lare
  3. Menak Srandhil
  4. Menak Sulub
  5. Menak Ngajrak
  6. Menak Demis
  7. Menak Kaos
  8. Menak Kuristam
  9. Menak Biraji
  10. 10 Menak Kanin
  11. 11 Menak Gandrung
  12. 12 Menak Kanjun
  13. Menak Kandhabumi
  14. Menak Kuwari
  15. Menak Cina
  16. Menak Malebari
  17. Menak Purwakanda
  18. Menak Kustub
  19. Menak Kalakodrat
  20. Menak Sorangan
  21. Menak Jamintoran
  22. Menak Jaminambar
  23. Menak Lahat

Dari cerita-cerita tersebut diatas oleh dalang wayang golek Kebumen diolah menjadi lakon wayang golek menurut kemampuan masing-msing dalang membuat struktur adegan dan membuat sanggitnya. Untuk itu tidak jarang terjadi dalam satu judul lakon yang sama dengan dalang yang berbeda akan berbeda pula garap adegan ataupun sanggitnya. Sindu Jataryana seorang dalang dari Mirit yang pernah mendapat tempat di hati masyarkat pendukung wayang Golek di Kebumen dan sekitarnya pernah menggelar lakon yang tidak terdapat dalam bagian-bagian lakon menak seperti;

  1. Ngembajati
  2. Dewi Nawangwulan
  3. Dewi Mandhaguna-Mandhagini
  4. Mandarpaes
  5. Jayengrana Wayuh
  6. Gendreh Kemasan
  7. Bambang Sekethi Lahir
  8. Ganggamina-Ganggapati
  9. Imanjaka Takon Bapa
  10. Rasakusuma Takon Bapa
  11. Kendhit Brayu
  12. Ganggakesuma Takon Bapa
  13. Dewi Sri
  14. Umarmaya Kembar
  15. Menak Sathit
  16. Jayengrana Kembar
  17. Iman Suwangsa Kembar
  18. Kadarwati Ranjam

19 Pernah menyusun lakon yang bersarkan atas peristiwa orang bunuh diri dengan kereta api. Lakon ini diminta khusus oleh penanggapnya.

Daerah Jawa mengenal adanya lakon-lakon yang tabu untuk dipergelarkan, karena beranggapan apabila mempergelarkan lakon tersebut akan mendapatkan petaka. Demikian halnya dengan pergelaran wayang golek menak di Kebumen ada beberapa lakon menak yang ditabukan seperti; a. Umarmaya Ngemis, b. Menak Jaminambar c. Menak laka, d. Bestak Bencek dan lain-lain

Pertunjukan wayang golek menak di Kebumen dilaksanakan pada siang dan malam yang memerlukan rentang waktu 6 sampai 8 jam. Siang hari dipergelarkan dari pukul 11.00 hingga 17.00, sedangkan pada malam hari pada pukul 21.00 hingga 05.00 yang masing-masing terbagi menjadi 3 (tiga) bagian pathet yaitu pathet nem, pathet sanga, dan Manyura. Sebelum pergelaran dimulai biasanya didahului dengan konser gendhing.

Iringan yang mendukung jalannya pertunjukan dengan menggunakan perangkat gamelan ageng slendro, dan pelog, tetapi gendhing-gendhing dan sulukan iringan wayang golek menak Kebumen mempunyai lagu khusus tidak seperti iringan wayang kulit gaya Yogyakarta atau Surakarta. Terutama pada lagu sulukan dan srepeg yang digunakan sebagai iringan baku wayang golek Kebumen. Masing-masing srepeg mempunyai lagu, dan kegunaan yang berbeda sesuai dengan Kebutuhan masing-masing adegan sebagai contoh; Srepeg Kembang jeruk nem digunakan sebagai Srepeg baku pada bagian pathet nem, Srepeg Kembang Jeruk Prang khusus digunakan pada adegan perang pada bagian pathet nem, Srepeg Kawosempal digunakan khusus untuk mengiringi adegan suasana sedih, untuk adegan perang pada bagian pathet sanga diiringi dengan Srepeg Rujak Beling pathet sanga, Srepeg semarangan digunakan untuk srambahan perjalanan tokoh gagah dan tokoh halus yang masing-masing mempunyai lagu sendiri-sendiri. Srepek Rujak beling pathet manyura digunakan khusus sebagai iringan perang pada bagian pathet manyura, Srepeg Bribil Buntung digunakan apabila ada tokoh putri yang berperang, Srepek Adhuh-adhuh sebagai iringan baku pada bagian pathet manyura, dan Godril Ladrang digunakan sebagai iringan perang tokoh gecul.

struktur adegan pada pergelaran wayang Golek Kebumen menyesuaikan dengan lakon yang dipergelarkan. Tetapi pada awal pergelaran dapat dipisahkan selalu diawali dengan Jejer I, dengan diiringi Bondhet, gendhing kethuk kalih kerep, sebagai iringan tampilnya tokoh-tokoh yang menghadap raja, dan janturan adegan, sebagai iringan tampilnya tokoh-tokoh yang menghadap raja, dan Janturan adegan, dilanjutkan dengan Monggang Sekaten cengkok Kebumen untuk mengiringi tampilnya tokoh raja. Tampilnya tokoh raja gagah dengan tarian kiprah biasa diiringi dengan Bendrong , lancaran. Pergelaran wayang golek menak Kebumen tidak terdapat struktur adegan gara-gara seperti halnya wayang kulit, tetapi juga mengenal tokoh punakawan baku bernama Jiweng sebagai pamomong tokoh-tokoh protagonis seperti Iman Suwangsa, Umarmaya, Jayengrana, Jayusman dan lain sebagainya.

Perjalanan waktu akan mendorong adanya perubahan terhadap sesuatu, demikian juga yang dilakukan oleh beberapa dalang wayang golek di Kebumen, seniman dalang tersebut mencoba mengadakan perubahan-perubahan dalam usaha mempopulerkan kembali pergelaran wayang golek menak Kebumen. Seniman dalang berharap akan wayang golek dapat menjadi pertunjukan yang elastis, dapat berdialog dengan masyarakat, mampu menampung aspirasi penggemarnya. Tetapi usaha-usaha yang dilakukan masih sangat terbatas pada kulitnya saja belum dapat menyentuh pada esensi wayang golek menak itu sendiri. Sebagai contoh dengan di tambahkan adegan Limbukan yang mengalunkan lagu-lagu dangdut, dan campur sari, demikian juga pada bagian pathet sanga ditampilkan Jemblung Marmadi, dan Jiweng sebagai pengganti adegan gara-gara. (Sunarto Sindhu | Pergelaran Wayang Golek Menak Kebumen | Makalah disampaikan dalam rangka Pekan Wayang Menak | Di Bentara Budaya Jakarta 9 s/d 16 Januari 2004)