Raja Duryudana bercerita kepada pendeta Durna, dalam mimpinya raja melihat sinar bercahaya di angkasa. Pendeta Durna berkata, itu ilham dari dewa. Dewa memberi tahu bahwa Wahyu Wasesa Tunggal akan turun, akan diberikan kepada ksatria yang kuat bersemedi di hutan Krendawahana. Raja Duryudana bersama putra mahkota akan mencari wahyu.
Raja Dewasraya di Nusa Tembini menyambut kedatangan Batari Durga. Raja minta bantuan kepada Batari agar bisa memperoleh wahyu. Untuk bisa memperoleh wahyu harus bisa mengkhianati Pandawa, sebab Pandawa yang bisa memperoleh wahyu. Batari Durga, menyanggupinya.
Prajurit Nusa Tembini yang dipimpin Patih Jaramaya berjumpa prajurit Kurawa. Terjadilah perang. Prajurit Astina ketakutan.
Di tengah hutan Suyudana berjumpa Begawan Lowana. Begawan Lowana ditanya tempat akan turunnya wahyu, tetapi tidak dijawabnya. Suyudana marah-marah, sang Begawan dibunuh dengan keris. Tubuh sang Begawan bergolek di tanah, kemudian hilang, dan terdengar suara kutukan. Kelak dalam perang Baratayuda Suyudana akan remuk tubuhnya. Suyudana melanjutkan perjalanan.
Gatotkaca dan Panakawan mengawal Abimanyu di Hutan Krendawahana. Mereka berjumpa prajurit Siluman, terjadilah perang. Batari Durga datang membantu siluman. Gatotkaca dan Abimanyu dilempar dengan aji kemayan mereka berdua menjadi arca. Para Panakawan kembali ke negara melaporkan nasib ksatria asuhannya. Arjuna setelah menerima laporan segera berangkat ke hutan. Di hutan berjumpa Endang Silihwarni. Arjuna tertarik kecantikan putri itu. Endang Silihwarni hendak diperistri, tetapi sang putri tiada menyambutnya. Arjuna hendak memaksa, sang putrid cantik mengutuk, Arjuna berubah menjadi Banteng, putrid cantik hilang dari pandangan. Banteng kembali ke Dwarawati.
Bima, Nakula dan Sadewa sedang menghadap Prabu Kresna. Mereka menanyakan kepergian Puntadewa. Krena memberitahu bahwa Puntadewa sedang bersamadi untuk memperoleh wahyu dari dewa. Bima minta pamit akan menyusul kakkanya. Nakula dan Sadewa mengikutinya.
Banteng bersama Panakawan datang di Dwarawati. Semar melapor peristiwa yang diderita oleh Arjuna. Kresna marah, lalu mengubah ujud pribadi menjadi anak bajang (kerdil) dan mengaku bernama Jaka Pengalasan. Banteng diberi nama Kyai Gumarang. Jaka Pengalasan, Kyai Gumarang dan Panakawan berangkat ke Nusa Tembini. Raja Dewasraya amat gembira, karena Abimanyu dan Gatotkaca dan Arjuna telah sengsara menjadi arca dan banteng. Jaka Pengalasan dan Kyai Gumarang mengamuk. Raja Dewasraya dan Patih Jaramaya tidak mampu melawannya. Batari Durga datang membantu, Jaka Pengalasan tidak mampu melawannya. Semar melawan Bartari Durga. Batari Durga tidak mampu melawan Semar lalu menyerah. Semar minta agar Jaka Pengalasan dan Kyai Gumarang sembuh kembali. Batari Durga memberi sehelai rambut kepada Semar, Rambut digesekkan pada Jaka Pengalasan dan Kyai Gumarang seketika pulih kembali menjadi Kresna dan Arjuna. Kresna, Arjuna dan Panakawan melanjutkan perjalanan , mencari Puntadewa.
Puntadewa bersemedi ditengah hutan, di depan arca gajah putih. Werkudara, Arjuna, Nakula dan Sadewa tiba ditempat persemedian. Mereka ikut bersemedi. Tengah mereka bersemedi terdengar suara bahwa undang-undang raja tersebut dalam tiga hal, sabda, do’a, kepercayaan. Sesudah suara hilang bercahayalah tubuh Puntadewa, demikian juga saudara-saudaranya. Puntadewa berhenti bersemedi . para Pandawa telah memperoleh Wahyu Wasesa Tunggal.
Kresna mengajak mencari Gatotkaca dan Abimanyu yang telah menjadi arca. Setelah bertemu arca diusap dengan rambut Batari Durga, Gatotkaca dan Abimanyu pulih kembali. Mereka meninggalkan hutan dan kembali negara. Ditepi hutan berjumpa dengan Suyudana dan prajurit Kurawa. Suyudana minta Wahyu, Kresna menerangkan bahwa wahyu bukan barang yang dapat diserahterimakan. Suyudana marah dan mengajak mulai perang Baratayuda. Werkudara matek aji. Prajurit Kurawa terbawa arus angin halilintar, tiba di negara Astina. Keluarga Pandawa berpesta ria di Amarta. (Subalidinata dalam Majalah Warta Wayang No. 6/1985)
