Undung Wiyono

Penulis naskah wayang orang dan dalang wayang orang Bharata. Lahir di Wonogiri, 31 Agustus 1964. Keterlibatannya pada dunia pewayangan diawali ketika ia disela-sela kuliahnya di Jurusan Sastra Jawa Universitas Indonesia, nyantrik di padepokan seni pedalangan Kondhobuwono di Pondok Labu, Jakarta. Ketekunannya mempelajari seni pedalangan mengantarkannya sebagai juara I,  Lomba Dalang Remaja se-Jabodetabek pada tahun 1989.

Pada tahun 2001 ia diangkat sebagai PNS Departemen Budaya dan Pariwisata atas usulan SENAWANGI bersama 71 PNS yang lainnya pada era Pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid. Ditempatkan sebagai Pegawai SENAWANGI dan diperbantukan di Sekar Budaya Nusantara dengan tugas pokok melestarikan dan mengembangkan wayang orang.

Undung Wiyono adalah salah satu anggota Tim Peneliti dalam rangka pengajuan wayang Indonesia sebagai World Heritage kepada UNESCO-PBB, tahun 2003.Usahanya dalam penggalian dan pelestarian wayang orang adalah sebagai penulis naskah dan tim kreatif wayang orang Sekar Budaya Nusantara pimpinan Ibu Nani Soedarsono yang mengadakan pendokumentasian wayang orang melalui rekaman dan siaran wayang orang melalui TVRI. Tidak kurang 75 naskah pementasan wayang orang yang telah ditulisnya, baik sendiri maupun bersama Tristuti Rahmadi Suryaputra telah ditayangkan di TVRI.

Undung Wiyono adalah seorang penulis artikel dan buku tentang budaya dan wayang. Beberapa buku mengenai wayang diantaranya adalahRupa dan Karakter Wayang Purwa, yang disusunnya bersama Heru Sudjarwo dan Sumari yang diterbitkan Kaki Langit Kencana (2010). Beberapa kali membantu sebagai editor buku-buku wayang yang diterbitkan SENAWANGI seperti: Gatra Wayang Indonesia (2013), Tokoh Wayang Terkemuka (2013), Cakrawala Wayang Indonesia (2014). Bersama dengan Mikka Wilda N. menyusun Buku Bahan Ajar Wayang yang diterbitkan Puslitbang Kemendikbud ( 2014). Pada tahun 2015 dipercaya SENAWANGI sebagai salah satu editor edisi revisi Ensiklopedi Wayang Indonesia.

   Kegelisahannya pada kemandegan pakem tradisi wayang orang membawanya untuk melakukan sebuah terobosan dengan menawarkan garapan baru Monolog Destarastra (2015) yang digagas bersama Kenthus Ampiranto dan Nanang Ruswandi dengan dukungan wayang orang Bharata.  Karya yang bernuansa eksperimental yang digelar di Gedung Kesenian Jakarta ini,berhasil sedikit membelokkan konvensi tradisional tentang pembabagan, alur dan teknik pengungkapan wayang orang dengan bingkai sebuah monolog. Usahanya termotivasi untuk menyampaikan pesan bahwa pengembangan wayang orang tidak pernah berhenti. Pementasan Monolog Destarastra ini juga membuktikan bahwa eksistensi dan regenerasi wayang orang Bharata tetap berjalan.

Menurut pengagum Tristuti Rahmadi ini, hal yang membuat hidupnya terasa indah dan berarti adalah ketika ia mengungkapkan ekspresi seninya sebagai dalang wayang orang setiap malam Minggu di WO Bharata, Senen, Jakarta.