Singkatan Pasinaon Dalang ing Mangku Negaran. Lembaga pendidikan dalang ini didirikan pada tahun 1931, pada zaman pemerintahan Mangkunegara VII (1916-1944) di Surakarta. Pada tahun 1966, PDMN yang semula berjalan tanpa badan hukum, ditingkatkan statusnya menjadi sebuah lembaga berbentuk yayasan. Ketika itu Mangkunegara VIII menjadi Ketua Umumnya, dibantu Ketua I Kanjeng Raden Harya Sutarso Hardjodipuro, Ketua II Kanjeng Raden Tumenggung Moelyatmo Darmosapoetro, dan sekretaris yayasan Drs. Harmanto.
Pendidikan dalang di PDMN ini diselenggarakan tiga kali seminggu. Waktu belajarnya sore sampai malam hari, sedangkan para siswanya sebelum menjadi dalang, mempunyai pekerjaan yang beragam. Ada yang berasal dari petani, pedagang, pegawai negeri, mahasiswa, dan pelajar.
Tokoh seniman yang besar jasanya dalam dunia pendidikan pedalangan PDMN adalah Ki Ngabehi Wignyosutarno, dalang terkenal di Surakarta. Pada tahun 1950-an,ia sering diundang mendalang di Istana Negara, Jakarta, atas undangan Presiden RI saat itu, Ir. Sukarno.
Sampai dengan tahun 1990-an, PMDN telah menghasilkan sedikitnya 200 dalang melalui pengajaran, pelatihan dan penataran. Pada akhir tahun 1966 Keraton Mangkunegaran menghibahkan wayang pusaka Kyai Kaligata untuk sarana praktik para siswa PDMN. Tahun 1998, sesepuh dan penanggung jawab PMND dipegang oleh Raden Ngabehi Suyatno Wignyosarono. Salah satu model pakeliran wayang kulit purwa cengkok Mangkunagaran adalah lakon Wahyu Makutharama karya Ki Ngabehi Wignyosutarno.
Saat ini PDMN statusnya sebagai salah satu jurusan dari Akademi Seni Mangku Negaran atau ASGA. Salah satu pengasuhnya adalah Mas Demang Edy Sulistyono. Beberapa ciri khas yang masih dipertahankan sebagai ciri khas Mangkunegaran adalah cengkok suluk dan tancepan gunungan.

