Objek kajian filsafat wayang atau objek materi kajian adalah pergelaran wayang, bukan hanya ceritera atau lakon wayang. Pergelaran wayang sebagai objek kajian itu tampil secara utuh tidak dapat dipisah-pisahkan seperti yang kita lihat, kita dengar dan kita rasakan dalam pergelaran wayang, baik yang menyangkut ”wadah” struktur pergelaran wayang maupun ”isi” yang menyangkut adegan-adegan, karawitan yang mengiringinya, janturan, pocapan, dan unsur-unsur dalam pergelaran lainnya.
Dalam pergelaran wayang akan tampil hal-ihwal sebagai berikut:
- Teater total di mana setiap pentas wayang dalam makna kualitatifnya hadir dalam wujud lambang atau simbol yang mengekspresikan keseluruhan kehidupan. Kelir atau layar, ruang kosong yang termuat di dalamnya, pohon pisang, blencong, gamelan wayang semuanya adalah serangkaian denotasi yang serentak memancarkan realitas simbolik konotatif. Keseluruhan pergelaran merupakan representasi realitas harmoni sebagaimana semesta hidup adalah harmoni, suatu harmoni kosmik.
- Penonton adalah unsur penting yang ‘tampil’ dalam setiap pergelaran wayang bukan hanya disuguhi hiburan melainkan dirangsang untuk berpikir dengan pernalaran, rasa sosial dan refleksi filosofis. Penonton, tak kurang memiliki wewenang penafsiran tentang apa dan bagaimananya pergelaran wayang. Pergelaran wayang memang merupakan suatu gambaran perjalanan kerohanian guna memahami hakikat hidup dan kehidupan serta proses mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.
- Pergelaran wayang dapat disimak dalam tiga aspeknya yaitu estetika, etika, dan falsafah. Estetika adalah aspek keindahan seninya yang mencakup semua unsur garap pakeliran; etika adalah kandungan pesan-pesan moral yang disampaikan; falsafah adalah hakikat makna pergelaran wayang.
- Pergelaran wayang sebagai objek kajian filosofis akan memancarkan pandangan-pandangan filsafat akademik metafisika, epistemologi, dan aksiologi. Selain itu dalam perkembangannya akan dapat digali khasanah kefilsafatan khusus seperti filsafat kenegaraan, filsafat politik, filsafat perang, filsafat diplomasi, filsafat sosial, filsafat lingkungan, dan sebagainya.
- e. Keseluruhan studi filsafat wayang mempunyai objek formal berupa kacamata tinjauan, yakni suatu perspektif filosofis yang berciri rasional, kritis, mendasar, komprehensif, holistik, sistematis, dan spekulatif. Metafisika, epstemologi, aksiologi, dan semiotika merupakan objek formal pokok dari pengkajian filsafat wayang.
