Latar Belakang Penyusunan Filsafat Wayang

Filsafat sebagai ilmu pengetahuan mengajak manusia berpikir kritis, mendasar dan menyeluruh serta sistemik terhadap fenomena manusia dan di luar manusia. Filsafat itu semula tumbuh dari kekaguman, kemudian berpikir mendasar, spekulatif dengan penalaran kritis. Dalam genetiknya filsafat (philosophy) bermakna cinta kebijaksanaan atau kearifan.

Berbeda dari kepandaian yang menggambarkan banyaknya pengetahuan, dengan kearifan dituntut selain kepemilikan pengetahuan dan keterampilan sekaligus bagaimana menerapkannya dalam ranah kehidupan. Filsafat dalam idiom klasik ini bukan hanya ingin menggapai kebenaran esensial suatu objek pemikiran, melainkan senantiasa akan bermuara pada perilaku kebajikan. Plato misalnya, menegaskan bahwa kebaikan adalah ide yang tertinggi. Namun dalam perkembangannya amanah filosofis Plato perlahan-perlahan ditinggalkan. Bergeser dari kebajikan,  kebenaran menjadi tujuan tertinggi yang dalam sekian era melahirkan filsafat keilmuan maupun filsafat budaya yang berperan sebagai bidang lahirnya ilmu atau science. Menurut Jacob Bronowski berciri dasar pencarian kebenaran (truth) sebagai nilai tertinggi.

Itulah arkeologi pengetahuan yang lebih jauh menumbuhkembangkan ilmu, kemudian teknologi sebagai ilmu terapan yang menjadi pilar pokok gerakan modernisasi. Globalisasi kebudayaan muncul dari rahim modernisasi, dan modernitas pun menjadi ideologi sebagaimana science menjadi scientism dan teknologi menjadi teknologisme.

Berbagai kemajuan yang memberi banyak kemudahan, dan kemewahan dialami dan disukuri oleh manusia sejagat. Sebagai contoh, pertanian mengalami revolusi, pengobatan berhasil mengatasi penyakit- penyakit berat dan manusia menguasai ruang angkasa.  Madu kepengetahuan ilmiah dirasakan, peradaban jauh lebih fungsional bagi keperluan problem solving berbagai masalah kehidupan. Namun demikian, di balik segala kemajuan dan kemewahan hidup manusia dalam empat abad terakhir, segera bermunculan problematika kehidupan yang berperan pembuka berbagai krisis. Krisis- krisis itu tidak hanya merambahi dunia kependudukan, politik internasional, lingkungan hidup dan sebagainya akan tetapi secara langsung menantang eksistensi kemanusiaan. Fakta krisis ini dalam arti positif memberikan peluang bagi komunitas budaya dan peradaban non-Barat ikut merumuskan dan berkontribusi mengatasinya. Kemajuan pesat ilmu dan teknologi Barat bersumber dari pengetahuan filsafatnya. Rumusan dan kontribusi ketimuran pun harus berhulu pada eksplorasi filosofis sumber-sumber religio-kulturalnya (Solichin)