Anjila Duta

Di negara Ngayuja, Prabu Rama sedang dihadap Patih Sugriwa, Raden Lesmana Dewa  dan para prajurit kera. Raden Anggada dan Anila anak Subali juga ikut mengabdi di negara Ngayuja. Prabu Rama sedang memikirkan istrinya Dewi Sinta yang diculik Dasamuka. Prabu rama menagih janji Sugriwa untuk merebut Dewi Sinta namun tidak berani. Para prajurit kera ditawari juga tidak ada yang berani. Ketika Prabu Rama melihat  di alun-alun ada kera yang sedang nangkring di atas ranting pohon ringin. Prabu Rama lalu mengutus Sugriwa untuk memanggilnya. Setelah menghadap Prabu Rama, Anjila mengaku sebagai anak Dewi Anjani lalu ditawari  ke negara Alengka  untuk membuktikan keberadaan Dewi Sinta dan untuk mengukur seberapa besar kekuatan  Dasamuka. Anjila menyanggupinya.

Sebelum berangkat, Raden Anjila minta makan terlebih dahulu, namun karena belum mandi maka disuruh mandi terlebih dahulu. Raden Anjila lalu mandi di danau Madirda. Melihat Anjila mandi Batara Guru mengambil daun sinom lalu ditaburkan  di badan Anjila seketika bulunya menjadi bercahaya sihingga para kera menjadi etrkejut . Selanjutnya Anjila ditambahi nama Raden Anjila Kencana atau Anoman.

Setelah itu Anoman diberi makanan oleh Sugriwa. Namun Anoman tidak mau makan. Anoman ingin makan bersama Prabu Rama. Sugriwa lalu diutus mengambil daun pisang. Makanan ditaruh di atas daun pisang lalau ditengahnya digarit dengan driji manis. Setelah makan Anoman minta tempat untuk meloncat supaya segera sampai di Alengka. Anoman disuruh memanjat Tugu Mamas yang ada di Istana. Tugu Mamas dipanjat Anoman terkena kekuatan aji Bandung Bandawasa menjadi roboh hancur berantakan. Lalu Anoman disuruh memanjat pohon ringin yang ada di Alun-alun. Namun Pohon Ringin diinjak Anoman juga roboh. Oleh Prabu Rama, Anoman ditanya minta panjatan apa. Anoman minta pancikan deriji manisnya Prabu Rama yang sebelah kiri. Selanjutnya tangan Prabu Rama dijulurkan.

Anoman lalu meloncat di jari manisnya Prabu Rama yang sebelah kiri.  Rama merasakan kalau tubuh Anoman tidak berat, seperti kapas. Keinginan Anoman tersebut sebenarnya hanya ingin mengambil cincin yang dipakai Prabu Rama sebagai tanda bukti kalau sudah bertemu Dewi Sinta. Cincin Seca Ampal ditarik pelan-pelan setelah lepas, Anoman lalu melompat sambil emmbawa cincin Seca Ampal. Sugriwa melihat kelakuan Anoman merasa malu  dan marah. Prabu Rama lalu mengutus para prajurit kera untuk mengiringi Anoman sampai tapal batas negara.

Di Alun-alun Sugriwa memerintahkan para prajurit kera untuk menangkap Anoman karena berani mencuri cincin Prabu Rama. Setelah bertemu Anoman, Sugriwa minta  cincin Seca Ampal, karena tidak diberikan terjadilah perang. Anoman dikeroyok para kera. Anoman dihajar Sugriwa badannya semakin membesar. Anoman lalu mengamuk, Sugriwa ditangkap lalu dibanting. Lalu dilerai Jembawan. Anoman disuruh melanjutkan perjalanan. Sugriwa dimarahi Jembawan sebab berani dengan utusan Prabu Rama, padahal sugriwa diutus tidak berani.

Di Kahyangan Andhapan, Dewi Ganggawati anak Batara Gangga Dewa bermimpi dikawin dengan Raden Anjila Kencana. Dewi Ganggawati kepada ayahnya untuk mencari Anjila Kencana. Batara Gangga Dewa lalu mencari Anjila Kencana. Sampai di tepi sungai Silunggangga  melihat kera putih yang sedang sedih, setelah ditanyai mengaku bernama Anjila Kencana dari negara Ngayuja. Anjila Kencana bersedih karena kehilangan Cincin Seca Ampal yang jatuh dalam sungai. Batara Gangga Dewa bersedia menemuka cincin kalau Anjila Kencana bersedia dikawinkan dengan Dewi Gangga Wati. Anjila Kencana lalu dibawa ke kahyangan Andhapan dan dikawinkan dengan Dewi Gangga Wati. Walau Anjila Kencana berwujud kera namun Dewi Gangga Wati sangat mencintainya sehinga hamil. Raden Anjila Kencana teringat sebagai duta akan meneruskan perjalanan. Cincin Seca Ampal lalu diberikan pada Anjila Kencana. Anjila Kencana berpesan besuk kalau istrinya melahirkan supaya diberi nama Anoman Trigangga.

Di Perapan Kendhalisada Begawan Kapiwara sedang dihadap Cantrik Sapu Angin, Gajah Situbanda, Buta Werka dan Gunung Parasu. Begawan Kapiwara mengetahui kalau akan kedatangan tamu besar utusan Prabu Rama Wijaya, untuk itu Cantrik Sapu Angin supaya menanak nasi untuk menjamu. Tak lama kemudian Anjila Kencana datang, badannya terasa capek dan lapar lalu minta makan .

Setelah diberi makan Anjila Kencana lalu menanyakan letak negara Alengka. Begawan Kapiwara memberitahu kalau negara Alengka masih jauh dan terhalang samudra. Kalau berjalan lewat darat satu tahun belum tentu sampai, tetapi kalau Cantrik Sapu Angin satu jamakan sampai. Anjila Kencana tidak percaya lalu Cantrik sapu Angin ditantang berlari diluar pertapan. Raden Anjila Kencana menggunakan ajian Bajing Kiring yang kesaktiannya kalau Anjila meloncat bisa sampai satu Yujana (25 km). Anjila Kencono lalu meloncat, Cantrik sapu Angin ditinggal. Tapi setelah sampai yang dituju, Cantri Sapu Angin sudah duduk  duluan. Anjila Kencana meloncat lagi, tapi ditempat yang dituju, Sapu Angin  sudah duduk sambil teertawa. Anjila Kencana merasa malu tapi ingin menantang lagi meloncat sambil mengeluarkan kesktiannya. Begawan Kapiwara merasa kasihan pada Anjila Kencana lalu masuk ke badannya sehingga Cantri Sapu Angin dapat dikalahkan. Begawan Kapiwara lalu memberitahu pada murid-muridnya kalau dia sedang menunggu-nunggu kedatangan Anjila Kencana sebab sudah mendapat pesan dari Dewa kalau kedatangan kera putih maka akan menjadi sarana kematiannya. Begawan Kapiwara lalu menitis pada Anjila Kencana dan diserahi Pertapan Kendhalisada dan semua siswanya. Cantri Sapu Angin lalu menyatu dalam kaki kiri Anjila Kencana sehingga larinya semakin kencang.

Anjila Kencana lalu lari dengan kencang sampai di tepi samudra lalu berhenti, Anjila Kencana melihat sebelah selatan ada pulau yang berada ditengah samudra.  Dengan mengambil kekuatan Begawan Kapiwara dan Cantrik Sapu Angin, sekali loncat sampailah di negara Alengka, menuju di Taman Arga Suka tempat Dewi Sinta.

Sementara itu di Taman Arga Suka, Dewi Sinta sedang ditemani Dewi Trijatha anak Raden Wibisana, serta pembantu istana Sepet Madu dan ibunya, Menyang Kobar. Selama di alengka Dewi Sinta berias, kurang makan dan tidur, tiap hari menangis memikirkan suaminya, Regawa. Dewi Trijata menyuruh pembantunya, Sepet Madu supaya mengangsu, ( mengambil air) dengan Klenthing. Saat itu Anjila sedang berada di pohon Nagasari yang ada di taman, ketika melihat Sepet Madu mengambil air dengan Klenthing. Cincin Seca Ambal dimasukkan dalam Klenthing. Pada saat air tersebut akan dipakai bersuci Dewi Sinta, saat meliaht cincin tersbeut  dan Dewi Sinta tidak lupa kalau cincin tersbeut adalah milih suaminya, Regawa.  Dewi sinta menyuruh Sepet Madu mengangsu lagi walau di luar waktu yang sudah biasa.

Prabu Dasamuka menugaskan prajuritnya menjaga Taman Arga Suka dengan ketat. Kalau sampai Dewi Sinta keluar dari Taman Arga Suka maka para penjaga akan dihukum mati. Setiap orang yang keluar dan masuk melalui pemeriksaan terlebih dulu termasuk ditimbang beratnya. Maka ketika Sepet Madu meliwati pemeriksaan ditanya kenapa mengambil air diluar kebiasaan, lalu menerangkan kalau diutus Dewi Sinta.

Raden Anjila melihat pembantu Sepet Madu mengambil air lagi, ketika mau pulang Anjani Kencana mengecikan badannya lalu masuk ke dalam Klenthing. Ketika mau ditimbang, Anjila marah sama penjaga timbangan lalu mengeluarkan Aji Bandung Bandawasa sehingga timbangannya berat sebelah  sampai kehabisan nomer sehingga, petugas timbangannya pun terpukul timbangan, tewas seketika. Anjila lalu meloncat keluar  dari Klething lalu menghadap Dewi Sinta.

Dewi Trijatha sangat tertarik melihat Anjila yang berbulu putih keemasan. Selanjutnya Dewi Sinta menanyakan asal-usul kera tersebut. Kera tersebut memperkenalkan kalau bernama Raden Anjila Kencana  dari negara Ngayuja utusan Prabu Rama Wijaya atau Regawa untuk membuktikan keberadaan Dewi Sinta di Alengka. Mendengar ucapan Anjila tersebut, Dewi Sinta sangat gembira, sebab yang rindu tidak hanya dirinya namun suaminya juga merindukannya. Karena senangnya Dewi Sinta menyuruh Dewi Trijata untuk menyuguh Anjila dengan buah Poh Jenggi, kesenangan Dasamuka. Anjila merasakan enaknya buah Poh Jenggi sampai bijinyapun dimakan.  Karena merasa kurang Anjila minta ditunjukkan pohonnya mau memetik buah tersebut. Trijata merasa khawatir karena pohon etrsebut dijaga empat raksasa. Trijata lalu memberi minum arak pada empat raksasa tersebut yakni Kala Prabancana, Kala Praba Suta, Kala Hanoman dan Kala Daya Pati. Setelah raksasa tersebut minum hingga mabuk, setelah itu Anjila memetik buah Poh Jenggi dari yang sudah matang sampai masih mentah bahkan sampai ke daun-daun, ranting, dan pohonnya dimakan semua. Yang tersisa tinggal akarnya lalu dicabut disabetkan pada ke 4 raksasa hingga tewas semua.

Negara Alengga menjadi ribut ada kera yang merusak Taman Arga Suka. Dasamuka memerintahkan prajurit untuk menangkap kera tersebut namun semua dapat dikalahkan. Lalu Indrajid menghadapi Anjila keduanya sama-sama sakti lalu dilerai Wibisana. Wibisana menanyakan siapa sebenarnya Anjila Kencana dan apa maksudnya merusak Taman Arga Suka. Anjila mengaku sebagai utusan Prabu rama Wijaya dari Ngayuja ingin membuktikan keberadaan Dewi Sinta dan mengukur seberapa besar badan  Prabu Dasamuka. Wibisana memberi sran supaya Anjila mengalah. Mengalah bukan berarti kalah. Kalau melawan tidak akan bertemu Dasamuka tapi kalau mengalah akan dipertemukan dasamuka. Anjila menurut lalu diikat Indrajit dihadapkan Prabu Dasamuka di Istana.

Di Istana, Prabu dasamuka menerima kedatangan Wibisana dan Indrajit yang sudah mengikat Anjila Kencana. Melihat Anjila, Dasamuka sangat marah. Anjila dipukul pakai Limpung Candrasa tidak membalas dan tidak sakit, lalu meloncat ke atas meja. Dasamuka semakin marah, Anjila disabet Limpung Candrasa lagi. Anjila menjulurkan ekornya untuk mengukur seberapa tinggi badan Dasamuka.

Merasa disepelekan, Dasamuka memerintahkan supaya Anjila dibakar di tengah Alun-alun. Setelah dibakar, Anjila membesarkan badannya lalu terbang ke angkasa menyebarkan apinnya sehingga negara Alengka hujan api.  Setelah itu Anjila menghadap Dewi Sinta di Taman Arga Suka. Dewi Sinta berpesan, bersedia dibawa kembali ke negara Ngayuja kalau dibuatkan jalan yang lurus dari negara Ngayuja smapai Taman Arga Suka. Anjila lalu mohon diri, oleh Dewi Sinta diberi bokor yang berisi air mata Dewi Sinta selama di negara Alengka.

Sementara itu Wibisana membela Anjila supaya Dewi Sinta dikembalikan pada Rama Wijaya. Wibisana dihajar dasamuka, matanya ditusuk senjata lalu diusir dari Alengka. Kepergian Wibisana bertemu Anjila lalu diajak ke Ngayuja. (Sumber Ki Surwedi).