Anjani

Adalah putri sulung Begawan Gotama dari pertapaan Gratina, di Gunung Sukendra. Karena peristiwa Cupumanik Astagina, Dewi Anjani yang semula seorang gadis cantik berubah menjadi wanita berwajah kera.

Suatu hari Dewi Anjani menyaksikan ibunya sedang bermain-main dengan Cupumanik Astagina. Cupu adalah wadah kecil bertutup, biasanya untuk menyimpan benda berharga seperti cincin. Sering pula cupu untuk menempatkan bedak. Cupumanik Astagina jika dibuka tutupnya akan menampilkan gambar-bambar yang indah dari segala penjuru alam. Layaknya monitor LCD mini yang canggih.

Dewi Anjani menyaksikan, betapa ibunya asik dengan  Cupu Manik Astagina. Anjani ingin meminjam cupu yang mengasikkan itu, ibunya terpaksa memberikannya karena takut putrinya itu akan mengadukan soal adanya Cupumanik Astagina pada Begawan Gotama, suaminya. Dewi Indradi berpesan agar  Dewi Anjani menyembunyikan dan senantiasa merahasiakan cupu itu.

“Jangan sampai ada orang yang mengetahui adanya cupu sakti ini Anjani!”,  kata Dewi Indradi.

Namun Dewi Anjani ternyata tidak mematuhi pesan ibunya. Ia justru memamerkan Cupumanik Astagina kepada kedua adiknya. Segera terjadilah keributan di antara mereka. Ketiga bersaudara itu saling memperebutkan Cupumanik Astagina.

Keributan karena pertengkaran itu akhirnya mengganggu Begawan Gotama yang sedang samadi. Ia mendatangi ketiga anaknya dan melihat apa yang mereka perebutkan.

Betapa terkejutnya Begawan Gotama ketika tahu bahwa yang diperebutkan anak-anaknya adalah Cupumanik Astagina, yang diketahuinya sebagai milik Batara Surya. Dewi Indradi pun segera dipanggil dan ditanya mengenai asal usul Cupumanik Astagina. Karena takut dan merasa salah, Dewi Indradi bungkam seribu bahasa. Ia tak berani menjawab.

Begawan Gotama marah dan cupu itu dilemparkannya jauh-jauh. Kepada ketiga anaknya ia berkata, siapa yang dapat menemukan cupu itu, maka ia  boleh memilikinya.

Kepada Dewi Indradi yang diam saja waktu ditanya, ia pun berkata: “Ditanya kok diam saja, kau seperti patung saja!” Kesaktian Begawan Gotama menyebabkan kata-katanya bertuah, dan seketika itu juga Dewi Indradi berubah ujud menjadi patung atau arca batu.

Cupumanik Astagina yang dilemparkan Begawan Gotama  jatuh di Telaga Mandirda. Guwarsa dan Guwarsi yang larinya lebih cepat dibandingkan Dewi Anjani, sampai ke telaga itu lebih dahulu. Kedua kakak beradik itu segera terjun dan menyelam ke dalam air telaga mencari Cupumanik Astagina.

Dewi Anjani yang datang lebih lambat, sampai ke telaga itu dalam keadaan lelah. Ia segera membungkuk dan mencuci muka dengan air telaga itu untuk menghilangkan lelahnya.

Sementara itu, dua orang pengasuh Guwarsa dan Guwarsi yaitu Menda dan Jembawan, berlarian pula mengikuti anak asuhannya. Mereka pun ikut terjun ke telaga.

Terjadilah keajaiban. Begitu muncul kembali ke permukaan telaga, Sugriwa dan Subali (atau Guwarsadan Guwarsi) telah berubah wujud menjadi kera. Sedangkan Dewi Anjani, hanya wajahnya saja yang berubah wujud menjadi kera, tetapi tubuhnya tetap manusia biasa. Wajah keranya, tidak mengurangi keindahan tubuh Dewi Anjani yang masih remaja itu.

Menda dan Jembawan, yang juga berubah ujud menjadi kera, selanjutnya disebut Kapi Menda dan Kapi Jembawan. Kapi berarti kera.

Ketiga anak Begawan Gotama menyesal sekali atas kejadian yang mereka alami itu. Mereka lalu kembali ke pertapaan. Begawan Gotama menyarankan agar anak-anaknya mau menerima takdir. Selain itu ia juga mengganti nama mereka. Guwarsa diganti namanya menjadi Subali, sedangkan Guwarsi menjadi Sugriwa. Keduanya lalu disuruh pergi ke tengah hutan untuk bertapa.

Dewi Anjani pun melakukan hal yang serupa. Ia bertapa nyantoka, yaitu bertelanjang, membenamkan tubuhnya, hanya kepalanya saja yang menyembul di permukaan air Telaga Nirmala selama berbulan-bulan. Selama bertapa itu Dewi Anjani hanya memakan apa saja yang hanyut di permukaan air telaga itu.

Pada suatu ketika, Batara Guru sedang melayang di angkasa mengendarai Lembu Andini. Saat itulah pemuka dewa itu melihat seorang wanita tanpa busana berendam di Telaga Nirmala. Timbul birahi Batara Guru menyaksikan keindahan tubuh wanita itu sehingga jatuhlah kama benih (mani)-nya menimpa setangkai daun asam muda, yang dalam bahasa Jawa disebut sinom.

Daun yang telah ternoda kama benih itu hanyut ke arah Dewi Anjani, yang segera meraih dan me-makannya. Betapa sedihnya Anjani ketika ia menyadari bahwa tiba-tiba dirinya hamil, padahal merasa belum pernah tersentuh pria. Maka ia pun protes kepada para dewa. Batara Guru dan Batara Narada kemudian datang menemuinya, memberi penjelasan mengenai apa yang telah terjadi. Batara Guru juga menyatakan bersedia mengaku, bahwa janin yang dikandung Dewi Anjani adalah puteranya.

Ketika datang waktunya bersalin, timbul huru hara di dunia. Gunung meletus, banjir mengganas dan badai terjadi di mana-mana. Setelah mengetahui menyebab bencana itu, Batara Guru mengutus beberapa orang bidadari menolong Dewi Anjani.

Setelah lahir, anak Dewi Anjani itu diberi nama Anoman, berupa seekor kera berbulu putih mulus. Selanjutnya Dewi Anjani diperkenankan masuk ke kahyangan dan kembali pada ujudnya semula, seorang putri cantik. Anaknya pun dibesarkan dan dididik di Kahyangan.Kelak, anak yang dilahirkan Anjani itu akan menjadi ksatria perkasa yang berumur panjang, walaupun ia berujud kera.

Sementara itu pedalangan gagrak Jawatimur mempunyai versi lain. Dalang-dalang di Jawa Timur mengisahkan bahwa Dewi Anjani adalah putri Begawan Wigutama dan Dewi Cani.

Menurut versi itu Dewi Anjani punya dua orang adik laki-laki yang satu ibu tetapi lain ayah. Mereka adalah Subali, yang sebenarnya anak Batara Guru; dan Sugriwa, anak Batara Brama. Kelahiran mereka berdua tidak diketahui Bagawan Wigutama, karena selama bertahun-tahun Wigutama berperang melawan Prabu Gajah Endra.

Jadi menurut pedalangan gagrak Jawa-timur, hanya Dewi Anjani saja yang benar-benar anak Begawan Wigutama.

Sesudah Subali dan Sugriwa remaja, mereka menanyakan keberadaan ayahnya. Dewi  Cani memberitahukan, bahwa ayah mereka sedang berperang melawan Prabu Gajah Endra. Keduanya lalu menyusul Begawan Wigutama.

Ketika menyaksikan ayah mereka hampir tidak lagi mampu melawan Prabu Gajah Endra, Subali turun tangan.  Dengan Aji Gundala Geni yang dimilikinya, Subali berhasil membunuh Gajah Endra. Aji Gundala Geni didapat Subali dari Batara Guru.

Sesudah musuhnya tewas, Begawan Wigutama menanyakan asal usul Subali dan Sugriwa. Penjelasan kedua remaja itu, yang mengaku sebagai anak, membingungkan Wigutama, karena sudah belasan tahun ia tidak berhubungan dengan Dewi Cani. Bagaimana mungkin istrinya bisa mempunyai anak lagi?Bahkan sampai dua orang!

Setelah pulang, Wigutama menanyakan soal kelahiran Subali dan Sugriwa, pada hal belasan tahun Begawan Wigutama tidak berada di rumah. Dewi Cani tidak berani menjawab pertanyaan itu. Karena merasa bersalah, ia bungkam seribu basa. Karena kesal pertanyaannya tidak dijawab, dan curiga akan kesetiaan istrinya,  Begawan Wigutama lalu mengutuk Dewi Cani menjadi batu hitam yang disebut sela-cani. Menurut versi itu Dewi Cani dikutuk karena dicurigai berbuat serong dengan bukti dua anak haram. Bukan karena persoalan Cupu Manik Astagina.