Anggada Mbalela

Di Pesanggrahan Swelagiri, Prabu Rama Wijaya dihadap Patih Sugriwa, Raden Lesmana, Gunawan Wibisana, Anoman, Anila dan para prajurit kera. Sebelum menyerang Alengka, Prabu Rama bermaksud mengingatkan kembali Dasamuka, suapay mengembalikan Dewi Sinta, bila tidak mau maka negara Alengka akan diserang.

Prabu Rama menawarkan kepada para kera selain Anoman  untuk pergi ke istana Alengka. Raden Anggada menyatakan kesediaannya lalu dititipi surat supaya disampaikan kepada Prabu Dasamuka.

Di Alun-alun negara Alengka, Tumenggung Galengga Raja bersama Tumenggung Galengga Sura dan Tumenggung Sura Dinemprang sedang menjaga istana jangan sampai ada kera yang masuk. Tiba-tiba datanglah Anggada yang ingin menghadap Prabu Dasamuka. Namun niat Anggada dicegah ketiga tumenggung tersebut sehingga terjadi peperangan. Indrajit melihat ada kera yang sedang dikeroyok para raksasa lalu melaporkan pada Dasamuka. Atas perintah ayahnya Indrajit lalu membawa Anggada menghadap Dasamuka di Istana. Dihadapan Dasamuka, Anggada mengaku sebagai anak Prabu Subalinata dan diutus Prabu Rama untuk menyampaikan surat. Begitu tahu kalau Anggada anak Subali lalu dirangkulnya dan didudukkan diatas sejajar dengan Dasamuka serta diakui sebagai saudara tuanya, sebab Dasamuka adalah murid Subali. Raden Anggada lalu dihormati para prajurit Alengka dan dijamu berbagai makanan yang enak. Anggada merasa dihormati dan tidak curiga kalau dijebak. Setelah makan dengan kenyang lalu minum sampai mabuk. Dalam kondisi mabuk lalu, Dasamuka memberitahu kalau ayahnya Anggada yakni Subali dulu dibunuh Prabu Rama Wijaya, sebab Rama Wijaya membela Sugriwa yang akan merebut Ibu Sugriwa yakni Dewi Mindarada dan Mindaradi. Mendengar cerita Dasamuka tersebut, Anggada sangat marah dan bermaksud akan membunuh Prabu Rama Wijaya dan Sugriwa. Dasamuka sangat senang lalu mengutus para raksasa untuk mendampingi Anggada kembali ke Swela Giri.

Perjalanan Anggada sampai di alun-alun Danalaga bertemu dengan Kapi Mendha, kapi Sraba dan Kapi Cucak Rawa. Dengan kondisi setengah mabuk, Anggada mengatakan kalau akan membunuh Rama Wijaya dan Sugriwa. Karena diperingatkan tidak mau terjadilah perang . Anggada dikeroyok ketiga kera tersebut , namun Kapi mendha, kapi Sraba dan Kapi Cucak Rawa dapat dikalahkan. Anggada lalu diperingatkan saudaranya, Anila namun juga tidak sadar sehingga terjadi perang, Anila dapat dikalahkan Anggada. Anggada semakin marah, Patih Sugriwa langsung dihajar hampir tewas. Melihat Sugriwa dihajar Anggada, Anoman lalu memisahnya. Namun Anggada tidak mau dipisah sehingga terjadi perang Anggada dan Anoman. Keduanya sama-sama sakti. Akhirnya Anggada dapat ditangkap Anoman  lalu dihadapkan para Prabu Rama Wijaya. Oleh Rama Wijaya, Anggada dihukum bertapa di tepi telaga Banci Angin.

Di pertapaan banci Angin, kapi Jembawan bermaksud menjenguk Anggada yang dihukum ditelaga banci Angin yang tidak jauh dari pertapaan. Setelah bertemu, Jembawan memberitahu pada Anggada kalau apa yang disampaikan Prabu dasamuka tidak semuanya benar. Memang benar Subalinata dibunuh Prabu Rama Wijaya tetapi Rama hanya mengantarkan untuk menguradi dosa Subali. Sebab Subali mengetahui kalau Rama Wijaya titisan Batara Wisnu. Sebenarnya Subali sendiri yang minta dibunuh sebab banyak berbuat dosa antara lain, berani memberikan ilmu Pancasurya kepada Prabu Dasamuka lalu membunuh Prabu Arjuna Wijaya. Bahkan sebelum tewas, Subali menitipkan Anggada yang masih kecil dan Anila yang masih dalam kandungan  supaya dididik Prabu Rama. Mendengar cerita kakeknya, Jembawan, Anggada merasa bersalah lalau minta supaya kakeknya membantu untuk memohonkan ampun pada Prabu Rama Wijaya. Kapi Jembawan lalu memanggil Anoman dan memberitahu kalau Anggada sudah bertobat dan dirinya akan memintakan ampunan pada Prabu Rama Wijaya. Selanjtnya Anggada dibawa ke pesanggrahan Swelagiri dan diampuni Prabu Rama Wijaya dan dikembalikan kedudukannya sebagai senopati. (Sumber Ki Surwedi).