Di negara Alengka Prabu Dasa Wikrama sedang bersama ayah angkatnya, Gunawan Wibisana. Prabu dasa wikrama bermaksud menjenguk negara Jurjana Pura. Oleh Wibisana diberi pesan kalau ke Jurjana Pura jangan melewati alun-alun Simbar Sirah, sebab disana tempat yang angker banyak roh bergentayangan yang suka mengganggu orang yang liwat.
Di alun-alun Tumenggung Mangku Praja bersama Tumenggung galengga Sura dan Sura Dinemprang menerima perintah Gunawan Wibisana untuk mengantarkan Dasa Wikrama sampai tapal batas Alengka. Sampai di alun-alun Dasa wikrama bertemu Wijomantri (Dogog) lalu diajak ke Jurjana Pura. Dalam perjalanan Dasa Wikrama bertanya pada Dogog kenapa Wibisana melarang dirinya melewati alun-alun Simbar Sirah. Dogog tidak bisa menjawab lalu diberi minum keras bangsa arak, tidak terasa perjalanan sampai alun-alun Simbar Sirah.
Ketika dasa Wikrama akan lewat alun-alun Simbar Sirah diserang harimau gaib yang menjaga alun-alun. Harimau bisa ditangkap lalu dibanting hilang jasadnya. Dogog karena kebanyakan minum arak hingga mabuk lalu bercerita kalau alun-alun Simbar Sirah itu makam leluhurnya dasa Wikrama, senopati maupun prajurit Alengka ketika tewas melawan prajurit kera di alun-alun Danalaga. Lalu ditunjunkkan satu persatu makam-makamnya. Dan diberitahukan kalau Dasa wikrama bukan anak Wibisana namun anak dasamuka kakak Wibisana. Sedang ramawijaya tidak pantas disebut ayah angkat sebab Rama Wijaya dan prajurit kera sebenarnya adalah musuh Prabu dasa Wikrama yang membikin rusak negara Alengka. Mendengar cerita Dogog, Prabu Dasa Wikrama matanya memerah merasa sedih mendengar kematian saudara-saudaranya yang dibunuh Prabu Rama Wijaya. Dasa Wikrama berniat akan balas dendam.
Sementara itu di negara Jurjuna Pura, Prabu Perjangga Lawa sedang memikirkan dirinya yang ingin segera menikah, tiba-tiba Prabu Dasa Wikrama datang lalu dijamu dengan hidangan yang enak-enak. Karena lama tidak bertemu mereka bicara sampai malam hari. Prabu Dasa Wikrama ingin tidur bersama Perjangga Lawa untuk menghilangkan rasa rindunya. Pada malam hari, Anggada merasakan ada keganjilan dan curiga pada Dasa Wikrama lalu memeriksa ke tempat tidurnya. Saat sampai di peristirahatan, Anggada melihat Dasa Wikrama menghunus pusaka akan ditusukkan pada Perjangga Lawa, tanpa basa-basi Anggada ditendang dan diseret ke alun-alun lalu dihajar, tiba-tiba ketahuan Raden Anila namun malah dipukul Anggada. Mendengar keramaian, Anoman lalu ke alun-alun melihat Anggada akan berperang dengan Anila lalu dicegahnya. Anggada marah sehingga perang dengan Anoman. Anggada lalu diikat selanjutnya dihadapkan pada Rama Wijaya untuk diadili.
Prabu Rama sebenarnya sudah mengetahui peristiwa yang sedang terjadi namun ia tidak mau mendahului. Terlebih dulu menanyakan pada saksi-saksi yang ada. Perjangga Lawa titanyai Rama Wijaya apa benar akan dibunuh Dasa Wikrama. Prabu Perjangga lawa tidak mengetahui karena sedang tidur. Prabu dasa Wikrama ditanya kenapa akan membunuh Perjangga Lawa, namun Dasa Wikrama tidak mengakui bahkan sudah mengaku sebagai saudara dengan Perjangga Lawa. Raden Anggada ditanya kalau memang benar melihat Dasa Wikrama akan membunuh Perjangga Lawa apa ada saksinya. Anggada tidak bisa menjawab sebab ketika malam tersebut ia sedang sendirian.
Berhubung Anggada berani menghajar Dasa Wikrama dan menuduhnya tanpa bukti maka Anggada diberi hukuman mati. Namun karena melihat jasa-jasanya ketika perang Alengka , maka Anggada hanya dihukum dengan dijepitkan di atas pohon kamal tempat ketika Sugriwa dihukum oleh Subali lalu dijaga Anoman.
Sementara itu Kapi Jembawan meninggalkan pertapaan Banci Angin sebab hatinya bersedih sudah berumur tua namun belum mempunyai istri karena hanya memikirkan negara ketika mengabdi di negara Rogastina dengan menjaga keselamatan Prabu subalinata. setelah Subali tewas lalu mengabdi pada Rama Wijaya sampai sekarang belum berkeluarga, mau pacaran sudah terlalu tua. Dalam perjalannya sambil melamun, Jembawan mendengar suara tangisan setelah didekati ternyata tangisan Anggada yang sedang dijepit di pohon kamal lalu dibebaskan Jembawan. Anggada lalu menjelaskan sebab-musababnya etrkena hukuman. Melihat Anggada ditolong Jembawan Anoman lalu mendekatinya dan menanyakan kenapa membebaskan Anggada. Jembawan beralasan karena kasihan dan menurut cerita Anggada sebenarnya dia tidak bersalah karena akan menyelamatkan Prabu Perjangga justru seharusnya mendapat ganjaran. Kapi Jembawan menceritakan dirinya dirinya yang telah mengabdi pada negara dari muda sampai tua sehingga tidak memikirkan untuk berkeluarga. Anoman merasa kasihan lalu memberikan sumpingnya yakni Parijatha. Selanjutnya Anoman kembali ke Jurjana Pura dan akan melaporkan kalau Anggada telah ditolong Kapi Jembawan dan sudah dibawa kembali ke negara Rogastina.
Di keputren Tandha Waru, Dewi Trijatha menerima kedatangan Anoman. Dewi Trijatha merasa senang hatinya karena telah menunggu. Anoman pun juga mengatakan sebenarnya kalau sudah mencintai Trijatha sejak bertemu di Taman Arga Soka namun tidak berani mengatakan, Trijatha pun sangat senang mendengar cerita tersebut dan bersedia diperistri Anoman. Sementara itu hubungan Anoman dan Trijatha diketahui para prajurit sehingga melaporkan pada Gunawan Wibisana. Setelah mendengar laporan, Gunawan Wibisana justru merasa senang karena Anoman yang mencuri Trijatha. Wibisana selanjutnya pergi ke negara Jurjana Pura.
Di Kasepuhan Cap Mala, Rama Wijaya sedang dihadap Raden Lesmana, Semar, Bagong dan Anoman. Berhubung Prabu Rama Wijaya sudah turun takhta dan raden Lesmana juga sudah diganti Raden Butlawasebagai prajurit lalu menjadi brahmana di pertapan Dhendha Kaya, maka Anoman juga bermaksud akan menentramkan hatinya di pertapaan Kendhalisada, namun niat Anoman tersebut belum disetujui Rama Wijaya sampai Prabu Prejangga Lawa sudah kawin. Tak lama kemudian datanglah Gunawan Wibisana, namun alangkah terkejutnya ketika melihat Anoman, padahal Anoman baru saja sama Trijatha di keputren Tanda Waru. Maka Gunawan melaporkan kalau di Tandha Waru ada pencuri yang berujud seperti Anoman. Rama Wijaya lalu mengutus Anoman untuk menangkap pencuri tersebut. Anoman yang bersama Trijatha dihajar kembali ke wujud semula yakni Kapi Jembawan lalu dibawa ke Rama Wijaya. Oleh Rama dikatakan bahwa memang sudah ditakdirkan kalau Trijatha menjadi istri Kapi Jembawan. Keduanya lalu disuruh bertapa di Banci Angin kelak keturunannya Jembawan dan Trijatha akan diperistri satria keturunan Rama Wijaya.
Selanjutnya Rama Wijaya mengutus Anila untuk memanggil Anggada yang berada di Rogastina untuk kembali ke Jurjana Pura dan diberi ampunan serta dijadikan patih kembali. Setelah sampai di Rogastina, Anggada diajak kembali oleh Anila tidak mau bahkan Anila disarankan supaya tidak usah kembali ke Jurjana pura namun menetap di Rogastina. Anggada dipaksa tidak mau sehingga terjadi epperangan. Anila dapat ditangkap lalu disobek abdannya hingga tewas. Tak lama kemudian Anoman datang yang telah mengawal Anila. Anggada diajak kembali ke Jurjana Pura tidak mau sehingga terjadi perang. Anggada dapat ditangkap Anoman lalu disobek kaki kanan dan kirinya hingga tewas. Anoman lalu kembali dan melaporkan kalau Anggada dan Anila sudah tewas.
Tak lama kemudian alun-alun Jurjana Pura kedatangan prajurit dari Alengka yang dipimpin Dasa Wikrama yang akan balas dendam atas kematian Prabu Dasamuka. Perangpun tak terelakkan. Anoman berhasil meloncat ke dalam kereta Dasa Wikrama lalu menggigitnya hingga tewas dan keretanya dibanting hingga hancur. Anoman kembali ke Jurjana Pura. (Sumber Ki Surwedi).
