Di Padepokan Pertapaan Teja Bangun, Begawan Ganda Kusuma dihadap dengan adiknya yang bernama Raden Ganda Wardaya, juga para Cantrik dan murid, sedang membahas persoalan keluarga dan persiapan Sayembara Nadar Kebo Bengkal. Raden Ganda Wardaya bernadar untuk Dewi Gandawati, adik Begawan Ganda Kusuma, yang telah beranjak dewasa serta banyak raja melamarnya, oleh karena itu, Sayembara Nadar Kebo Bengkal diadakan oleh Raden Ganda Wardaya dengan ketentuan bagi siapa saja yang mampu mengalahkan Raden Ganda Wardaya diperkenankan menyunting kakaknya, yakni Dewi Gandawati. Pembicaraan tentu tuntas terputus sejenak dengan hadirnya tamu utusan Prabu Lugasma yang bernama Patih Wanara Sakti dari Negara Banci Angin. Patih Wanara Sakti menyampaikan surat lamaran Prabu Lugasma yang bermaksud meminang Dewi Gandawati untuk dijadikan permaisuri di Negara Banci Angin. Begawan Ganda Kusuma menjelaskan kepada Patih Wanara Sakti, bila hendak melamar Dewi Gandawati diminta supaya Prabu Lugasma sendiri yang datang di Pertapaan Teja Bangun, karena Dewi Gandawati telah disayembarakan dalam rangka Nadar Kebo Bengkal, dengan ketentuan bagi siapa saja yang bisa mengalahkan Raden Ganda Wardaya, akan diberi hadiah Dewi Ganda Wati. Patih Wanara Sakti menyatakan siap mewakili Prabu Lugasma untuk mengikuti sayembara Nadar Kebo Bengkal.
Patih Wanara Sakti, Raden Ganda Wardaya, para sekabat Begawan Ganda Kusuma, bersama-sama menuju ke alun-alun Pertapaan Teja Bangun untuk melaksanakan sayembara. Sesampai di alun-alun, Patih Wanara Sakti bertempur melawan Raden Ganda Wardaya, dan dengan cepat Patih Wanara Sakti dapat ditangkap oleh Raden Ganda Wardaya lalu dilemparkan ke tepi alun-alun. Tubuh Prabu melayang ke luar alun-alun, namun sebelum terjatuh ditanah, tubuh Patih Wanara Sakti berhasil di tangkap oleh Prabu Lugasma yang tiba-tiba datang menyusulnya. Patih Wanara Sakti menghaturkan sembah serta melaporkan bahwa Dewi Gandawati sekarang dijadikan sayembara, siapa saja yang dapat mengalahkan Raden Ganda Wardaya berhak memboyong Dewi Gandawati. Mendengar laporan Patih Wanara Sakti, Prabu Lugasma lalu maju ke tengah alun-alun untuk menantang Raden Ganda Wardaya. Dalam adu tanding antara Prabu Lugasma melawan Raden Ganda Wardaya itu, Prabu Lugasma kewalahan, lalu triwikrama [ krodha ], menjadi seekor kera (wujud Prabu Subali).
Prabu Lugasma dengan wujud triwikramanya itu sangat beringas, dengan kekuatan baru ia pun berhasil menangkap dan menghajar Raden Ganda Wardaya, lalu melemparkannya ke luar arena pertarungan hingga jatuh di pinggir alun-alun. Setelah terjatuh dan berusaha bangun kembali, Raden Ganda Wardaya dengan tertatih-tatih masuk ke Pertapaan Teja Bangun minta bantuan Begawan Ganda Kusuma. Raden Ganda Wardaya memohon Begawan Ganda Kusuma untuk berperang melawan Prabu Lugasma, tetapi Begawan Ganda Kusuma tidak bersedia bertempur. Raden Ganda Kusuma berusaha memaksa kakaknya untuk bertempur. Karena sudah menolak dan merasa didesak terus maka kesal pula hati Begawan Ganda Kusuma, oleh sebab itu Raden Ganda Wardaya disabda menjadi seekor Ular Naga. Naga perwujudan adiknya itu sangat marah, Begawan Ganda Kusuma digigit hingga tewas, dan jasadnya menghilang (mekrat). Naga Ganda Wardaya lalu meninggalkan Pertapaan Teja Bangun pergi ke tengah Hutan Pala.
Diceritakan, setelah ditinggalkan oleh musuhnya, Prabu Lugasma menyusul masuk ke dalam Pertapaan Teja Bangun. Dewi Gandawati yang sedang sendirian di dalam Pertapaan berusaha akan di boyongnya ke Negara Banci Angin, tetapi Dewi Gandawati tidak mau, lalu lari memasuki Hutan Pala, dan dikejar oleh Prabu Lugasma.
Sementara itu di tempat lain, di Kelurahan Klampis Ireng, Semar dan Bagong sedang menerima kedatangan Raden Ugrasena satria dari Negara Mandura (Putra Prabu Basukethi). Raden Ugrasena mengutarakan rencananya membuka Hutan Pala untuk membangun Negara baru, oleh sebab itu Semar dan Bagong diminta kesediaanya untuk membantu. Semar dan bagong bersedia, lalu mereka meninggalkan Pedukuhan Klampis Ireng menuju ke Hutan Pala.
Sesampai di Hutan Pala, mulailah Raden Ugrasena menebang pepohonan pala, membuka hutan dengan bantuan Semar dan Bagong. Belum seberapa lama Raden Ugrasena menebang hutan, terdengar suara orang berteriak minta tolong, setelah didekati, ternyata Dewi Gandawati yang akhirnya meminta tolong karena dikejar-kejar oleh Prabu Lugasma. Raden Ugrasena bersedia menolong Dewi Gandawati asalkan Dewi Gandawati bersedia menjadi istrinya. Dewi Gandawati menyatakan bersedia, lalu di masukkan ke dalam kancing gelung. Ketika Prabu Lugasma tiba di tempat itu untuk mencari Dewi Gandawati, Raden Ugrasena menyatakan bahwa Dewi Gandawati sudah menjadi istrinya. Jawaban Raden Ugrasena itu membangkitkan amarah Prabu Lugasma sehingga terjadilah perkelahian antara Raden Ugrasena melawan Prabu Lugasma. Raden Ugrasena dipetak oleh Prabu Lugasma melayang hingga akhirnya jatuh di Pertapaaan Rahtawuh, Semar dan Bagong berlari menyusul.
Di Pertapaan Rahtawuh (Pertapaan Sapta Arga), Begawan Abiyasa sedang menerima kedatangan Prabu Pandhu yang menanyakan tentang kandungan Dewi Kunthi yang hampir melahirkan. Begawan Abiyasa berpesan kepada Prabu Pandhu supaya bersabar dalam mengahadapi segala cobaan, juga harus selalu berhati-hati terutama terhadap kandungan Dewi Kunthi, sebab Dewi Kunthi baru pertama hamil, jangan sampai hatinya sedih agar tidak mempengaruhi kandungannya. Oleh sebab itu Prabu Pandhu disarankan untuk segera kembali ke Istana Negara Ngastina supaya tidak kelamaan meninggalkan Istana. Belum sampai Prabu Pandhu turun dari pertapaan, tiba-tiba datanglah Raden Ugrasena diikuti Semar dan Bagong untuk meminta bantuan kepada Begawan Abiyasa mengalahkan Prabu Lugasma Raja Negara Banci Angin. Begawan Abiyasa meminta Prabu Pandhu berkenan membantu Raden Ugrasena. Maka berangkatlah mereka menuju ke tempat Prabu Lugasma.
Setelah bertemu dengan Prabu Lugasma terjadilah pertempuran antara Prabu Pandhu Dewanata melawan Prabu Lugasma. Dalam pertempuran itu, Prabu Pandhu dipetak oleh Prabu Lugasma hingga terjatuh di tengah Hutan Pala tempat Naga Ganda Wardaya bertapa. Merasa ada yang menganggu pertapaannya, Naga Ganda Wardaya marah, Prabu Pandhu segera dibelitnya. Prabu Pandhu mengeluarkan kesaktiannya, kemudian Naga yang membelit tubuhnya itu dicengkeram mulutnya lalu di sobek, seketika itu Naga yang besar tadi menghilang dan berubah wujud menjadi seorang satria yang mulutnya copet (sobek). Setelah berubah menjadi manusia lagi, Raden Ganda Wardaya menyembah Prabu Pandhu dan menghaturkan terima kasih karena telah ditolong hingga kembali pulih ke wujud manusia lagi. Raden Ganda Wardaya menyatakan tunduk kepada Prabu Pandhu.
Tiba-tiba datanglah Raden Ugrasena bersama dengan Dewi Ganda Wati, melihat adiknya selamat, Dewi Gandawati merangkul Raden Ganda Wardaya dan mengatakan bahwa ia telah menjadi istri Raden Ugrasena. Raden Ganda Wardaya menerima keputusan kakaknya itu. Karena mulutnya telah cacat menjadi copet, Raden Ganda Wardaya diberi nama baru oleh Prabu Pandhu menjadi Raden Gandamana.
Diceritakan, Raden Gandamana masih merasa tidak terima atas kekalahannya terhadap Prabu Lugasma, lalu ia minta ijin Prabu Pandhu untuk menghadapi Prabu Lugasma lagi. Prabu Pandhu mengijinkan dan mengawasi dari kejauhan. Terjadilah pertempuran lagi antara Prabu Lugasma melawan Raden Gandamana, setelah terdesak, Prabu Lugasma mundur sambil triwikrama berubah menajdi seekor kera yang sangat besar. Raden Gandamana juga mundur, tiba-tiba terdengar olehnya suara Begawan Ganda Kusuma kakaknya yang sudah wafat mengatakan agar supaya ketiak sebelah kiri dibuka. Mendengar nasehat kakaknya yang sudah wafat itu Raden Gandamana segera membuka ketiak kirinya, kemudian Roh Begawan Ganda Kusuma masuk ke tubuh lewat ketiak kiri adiknya itu dan berubah menjadi Aji Sulung Ambarbiyu. Raden Gandamana dipesan oleh Roh Begawan Ganda Kusuma, jika nanti diserang Prabu Lugasma maka harus segera membuka ketiak kirinya. Setelah memperoleh kekuatan baru, Raden Gandamana berteriak lantang menyumbari Prabu Lugasma untuk bertempur kembali. Mendengar sesumbar Raden Gandamana, maka Prabu Lugasma semakin murka, ia maju dengan beringas menerjang Raden Gandamana. Begitu Prabu Lugasma mendekati Raden Gandamana, dengan sigap ketiak kiri Raden Gandamana dibuka, seketika itu pula Prabu Lugasma jatuh pingsa terkena daya Aji Sulung Ambarbiyu yang mengeluarkan bau amis, banger, apek menjadi satu. Prabu Lugasma lalu berubah menjadi aslinya yaitu Kapi Jembawan dari Pertapaan Banci Angin.
Begawan Abiyasa datang ke arena untuk melerai pertikaian itu. Kapi Jembawan menjelaskan kepada Begawan Abiyasa, mengapa ia berubah wujud menjadi Prabu Lugasma, tidak lain karena ingin mencocokkan sabda Prabu Rama Wijaya. Prabu Rama Wijaya pernah mengatakan bahwa suatu ketika keturunan Kapi Jembawan akan menjadi jodoh seorang kesatria putra Raja Negara Mandura yang menjadi pengejawantahan Prabu Rama Wijaya. Hingga saat ini di Negara Mandura sudah diperintah oleh keturunan dua generasi, yaitu generasi Prabu Kuswa Nalendra menurunkan Prabu Basukethi, dan sekarang Prabu Basukethi mempunyai beberapa anak satria dan putri. Kenyataan lain adalah, Dewi Trijata istri Kapi Jembawan sampai kini belum berhasil hamil, lalu siapa kiranya putra Mandura yang nanti yang akan menjadi menantunya. Begawan Abiyasa menjelaskan, Kapi Jembawan harus bersabar, sebab sabda Prabu Rama Wijaya sebentar lagi akan terwujud, apabila telah lahir seorang putra yang berkulit hitam cemani di Negara Mandura. Satria itulah yang nantinya akan menjadi menantu Kapi Jembawan. Dan saat ini sebenarnya Dewi Trijata sudah hamil, hanya saja Kapi Jembawan belum di beritahu oleh Dewi Trijata, oleh sebaba itu Kapi Jembawan diminta segera pulang ke Pertapan Banci Angin, sebab sudah dinanti-nantikan Dewi Trijata. Mendengar penjelasan Begawan Abiyasa seperti itu, seketika itu Kapi Jembawan menjadi gembira, lalu pamit pulang ke Pertapaan Banci Angin.
Diceritakan, setelah Kapi Jembawan berpamitan untuk kembali ke Pertapaan Banci Angin, maka Raden Ugrasena segera melanjutkan menebang Hutan Pala dibantu Raden Gandamana dan Prabu Pandhu. Setelah penebangan Hutan Pala selesai Begawan Abiyasa menyabda kawasan yang baru dibuka itu menjadi Negara yang lengkap dengan segala perabotannya dan diberi nama Negara Cempala Reja. Raden Ugrasena dinobatkan menjadi raja pertama Negara Cempala Reja dengan gelar Prabu Dulpada (Prabu Ugrasena). Selanjutnya, Raden Gandamana diangkat menjadi Patih Negara Ngastina karena Patih Banteng Kistawa tidak mempunyai keturunan. Sedangkan Begawan Abiyasa kembali ke Pertapaan Rah Tawuh. (Ki Surwedi 2007)
