Adeging Kahyangan Suralaya

Sang Hyang Tunggal dihadap anak-anaknya yakni Sang Hyang Puguh, Sang Hyang Pulung (Sang Hyang Punggung) dan Sang Hyang Samba. Sang Hyang Tunggal  bermaksud akan mencipta Kahyangan Suralaya di atas gunung Jamur Dipa (Gunung Tengguru) untuk tempat para dewa. Namun ada Raja Ijajal dari Negara Jabalkat  bernama Prabu Julmakjut Jomakjuja yang ingin menjadi raja para dewa. Sang Hyang Tunggal memerintahkan anaknya yang bisa membunuh Prabu Jomakjuja akan dinobatkan menjadi rajanya dewa di Kahyangan Suralaya. Sang Hyang Puguh dan Sang Hyang Punggung tidak berani sedang yang berani Sang Hyang Samba. Bersamaan itu kedatangan anak Sang Hyang Kaneka dari Kahyangan Jagad Sunya Ruri yakni Sang Hyang Pongat dan Sang Hyang Umarda yang menjadi rajanya dewa dan bersedia membunuh Prabu Jomakjuja.

Di Repat Kepanasan, Prabu Julmakjut Jomakjuja bersama Patih Kala Wengwang kedatangan Sang Hyang Pongat bermaksud menggagalkan keinginan Prabu Julmakjut Jomakjuga yang ingin berkuasa di kahyangan. Terjadilah perselisihan hingga perang tanding. Namun Sang Hyang Pongat dapat dikalahkan lalu dibantu Sang Hyang Umarda.  Dari kejauhan Sang Hyang Samba melihat Sang Hyang Umarda seperti wanita  yang cantik. Ketika Sang Hyang Umarda dapat dilempar oleh Prabu Jomakjuja  jatuh di depan Sang Hyang Samba. Sang Hyang Umarda di tangkap dan dirayu untuk bersedia diperistri. Namun Sang Hyang Umarda tidak mau. Karena ketakutan Sang Hyang Umarda melarikan diri  dan diburu Sang Hyang Samba sampai ke puncak gunung. Sang Hyang samba merasa bersenggama dengan Sang Hyang Umarda sampai meneteskan air mani jatuh di atas puncak gunung. Air mani yang jatuh tadi terkena sinar matahari lalu di sabda Sang Hyang Jan Banujan (Sang Hyang Caraka) menjadi 30 dewa bersama jodohnya.

Sang Hyang Umarda kemanapun lari terus diburu Sang Hyang Samba. Karena kesulitan menangkap Sang Hyang Umarda, maka Sang Hyang Samba bermeditasi supaya diberi empat tangan. Berhubung Sang Hyang Samba putra Batari Rekata Wati, permintaannya terkabul. Sang Hyang Umarda akhirnya dapat ditangkap, kemaluannya dicabut dilempar menjadi ulur-ulur. Setelah kemaluannya tercabut keluarlah darah oleh Sang Hyang Samba disumbat dengan tapel dari Nabi Adam, menciprat sampai ke dada sehingga menjadi payudara. Lalu digarit deriji manis keluar darah lagi lalu dicuwilkan tapel Adam dislempitkan ke tengah darah sehingga darah berhenti mengalir.

Sang Hyang Tunggal merasa kasihan melihat Sang Hyang Umarda lalu disabda menjadi wanita diberinama Batari Umayi menjadi istri Sang Hyang Samba. Batari Umayi diminta kembali ke kahyangan Rat sari. Sang Hyang Samba dimarahi Sang Hyang Tunggal karena belum berhasil membunuh Prabu Jomakjuja. Sang Hyang Samba maju lagi perang melawan Prabu Jomakjuja, namun kalah badanya banting jatuh di Repat Kepanasan. Melhita tekat Sang Hyam samba, Sang Hyang Tunggal merasa senang lalu membua kerangkeng besi sebesar pohon kelapa lalu dijatuhkan ke  Prabu Jomakjuja. Namun kerangkeng digigiti Prabu Jomakjuja tinggal  tinggal sebesar deriji. Terdengar suara ayam jago berkokok, kerangkeng membesr lahi sebesar gelugu lalu di lempar jatuh ke keraton para Ijajal.

Sang Hyang samba akan dijadikan raja di kahyangan Suralaya namun ditolak Sang Hyang Puguh dan Sang Hyang Punggung. Sebab yang berhasil emmbunuh Prabu Jomakjuja bukan Sang Hyang samba. Sang Hyang Puguh disuruh menelan gunung kukusan  kalau bisa akan dijadikan raja. Namun tidak bisa mulutnya sobek, giginya rontok tinggal satu, rupanya menjadi jelek lalu diberi nama Kyai Teja Mantri (Dogog). Sang Hyang Punggung disuruh menelan gunung Ungkal, namun tidak bisa mulutnya sobek, giginya rontok mukanya menjadi jelek lalu diberi nama Semar.

Semar dan Dogog lalu disuruh turun ke dunia. Dogog diminta menjadi abdi para Brahman (Angkara  murka). Semar menjadi abdi para pertapa .  Ketika Dogog turun ke dunia tidak mempunyai teman maka bongkahan gunung Ungkal di bentak menjadi manusia diberi nama Bilung. Bilung diajak sebagai teman sampai di pulau Kepadhangan lalu di babati hutannya dijadikan desa diberi nama Tunjung Selat atau Kepadhangan atau Glagah Anyangan.

Sedang Semar ada di lereng gunung Jamurdipa. Pada tenga hari terkejut melihat bayangannya selalu mengikutinya. Bayangan tersebut dibentak menjadi manusia diberinama bagong (sang Hyang wayang). Seketika Semar kedatangan Sang Hyang Tunggal yang memberinya senjata berupa keris . Keris tersebut mau direbut Bagong sampai melengkung berubah wujud menjadi manusia diberinama Saraganja (Gambir sawit) dijadikan anak Semar atau adik bagong. Di tengah jalan Semar berkentut. Karena mencium kentut Semar, bagong dan Saganja tak sadarkan diri . Bau kentut tersebut oleh Semar disabda menjadi manusia putri diberinama Dewi Muleg dijadikan istri Bagong. Setelah berkentut Semar terperdaya kekuatan bumi menjadi manusia lalu berak. Semar berak di tengah jalan terinjak Bagong , kotorannya menempel di akki Bagong tidak bisa dihilangkan. Bagong marah-marah, kotoran tersebut disabda  Semar menjadi manusia serupa dengan Bagong diberinama Sang Hyang Katinja (besut) diaku Bagong sebagai anaknya.  Semuanya lalu bersama-sama turun ke dunia  sampai di hutan Klampis yang berwarna hitam. Hutan tersebut lalu dibabati menjadi pedukuhan Klampis Ireng (Karang kadempel).

Di kahyangan Rat Sari Sang Hyang Samba mengajak bersenggama Batari Uma namun ia tidak mau karena merasa belum suci. Karena mau dipaksa, Batari Uma melarikan diri. Karena nafsu birahinya sudah memuncak sehingga air maninya jatuh lalu diambil terus dibuang ke tengah samudra.

Sang Hyang Samba diangkat menjadi rajanya para dewa dengan nama Ratuningrat Nyawa Sekalir (Batara Guru). Tiba-tiba kedatangan 30 anak semua diangkat menjadi anak Batara Guru dan dijadikan prajurit dewa yang bernama Durandara. Sebagai pimpinannya adalah Batara Brahma dari kahyangan Degsina Geni.

Diceritakan Sang Hyang Pongat tidak terima kalau saudaranya dijadikan wanita maka mengamuk melawan Batara Guru. Sang Hyang Pongat dapat ditangkap Batara Guru lalu diinjak, badanya menjadi pendek dan mukanya jelek lalu diberi nama Batara Narada. Setelah tobat lalu diberi kedudukan di Suralaya menjadi juru bahasa.

Selanjutnya Batara Guru diberi telur Sang Hyang Wenang dari angkasa. Telur disabda menjadi tiga dewa. Pertama berkulit putih diberinama Batara Basuki. Kedua berkulit hitam diberinama Batara Wisnu. Ketiga berwujud putri kulitnya kuning diberinama Batari Sri Widowati, semua diaku sebagai anak Batara Guru. Batara Basuki dan Wisnu diberi kahyangan Nilawindu (Bahtra laut). Batari Widowati di kahyangan Asmara Wati (Sumber Ki Surwedi).