Wayang Sawahlunto

Kehidupan seni Wayang kulit purwa di Sawahlunto keberadaannya telah ada sejak masa penjajahan kolonial Belanda, dan pertama kali dipentaskan pada tahun 1901 dengan dalang Ki Arjo Purwoko. Hal tersebut dapat dibuktikan adanya  wayang kulit kuno yang berada di rumah H.Sajiman, Kampung Sungai Durian, Kel. Durian, Kec. Barangin, Kota Sawahlunto. Setelah Ki Arjo Purwoko, di wilayah Sawahlunto kemudian muncul dalang yang ke 2  pada tahun 1930-1946 dalang Ki Jenggot. Dalang Ketiga  tahun 1935-1968 dalang Ki Sukimin (Kp. Surian), dalang Keempat tahun 1939-1976  Ki Rono (Kp. Surian),  dalang Kelima tahun 1946-1950 dalang Ki Suradi. Dalang Keenam tahun 1966-1994 dalang Ki Karjo (kampung Sungai Durian). Dalang ketujuh tahun 2005 sampai Sekarang dalang Ki Slamet (Paguyuban Bina Laras), dan  kedelapan  pada tahun 2008 sampai sekarang  adalah Ki Bandung Sriyanto.

Pada tahun 2011 Ki Bandung Sriyanto melakukan pengembangan dan penciptaan model pertunjukan wayang kulit dengan desain, model/garapan baru. Yakni membuat  bentuk dan rupa dari tokoh-tokoh wayang yang disesuaikan dengan kebutuhan cerita/lakon pada Wayang Sawahlunto, khususnya untuk menggali cerita/ lakon yang mengambil dari cerita kearifan local, yakni “Orang Rantai.” Sedangkan garapan baru yakni melakukan sebuah inovasi-inovasi baik dari repertoar lakon/cerita, desain boneka wayang, bahasa, dan karawitan/musik yang digunakan, yakni menggali, mempertimbangkan dan menyesuaikan situasi dan kondisi sosial budaya masyarakat Kota Sawahlunto yang sangat beragam dan multietnik, antara lain Minangkabau,Jawa, Sunda, Batak, Tiong Hua dan beberapa etnis lain di Indonesia.

Dalam penggunaan unsur-unsur pertunjukan wayang Sawahlunto sangat berbeda dengan unsur-unsur yang ada pada pertunjukan wayang kulit/pakeliran pada umumnya dari berbagai gaya. Antara lain :

  • Dialog dan Narasi, menyesuaikan kondisi latar belakang bahasa local Sawahlunto itu sendiri, adapun bahasa yang digunakan dalam sehari-hari masyarakat Sawahlunto mayoritas menggunakan bahasa Tangsi, yakni bahasa campuran antara bahsa beberapa etnik seperti Jawa, Minang, Sunda, Batak maupun bahsa Melayu serta bahasa Indonesia sendiri

Akan tetapi dalam penggunaannya disesuaikan dengan konteks adegan maupun karakter tokoh wayang.

  • Gerak Wayang, menyesuaikan dengan karakter masing-masing tokoh wayang, yakni sesuai teks maupun konteks. Namun juga terinspirasi dari gerakan-gerakan yang ada pada wayang kulit purwa pada umumnya.
  • Karawitan Wayang Sawahlunto, banyak mengadopsi dan menggarap gendhing – gendhing bentuk seperti lancaran, srepegan, sampak dan lain-lain yang merupakan pengembangan dari bentuk-bentuk tradisi karawitan. Misalnya: penyusun mebuat garapan gendhing srepeg Sawahlunto, Sampak Sawahlunto, Lancaran Sawahlunto, Lancaran Londo dan sebagainya. Dalam  garapan vocal menggunakan  syair bahasa campuran/tangsi, memasukkan garap  alat music selain gamelan seperti Talempong Batuang alat music Kota Sawahlunto, Rebana, Drum, Symbal, maupun Kentongan. Untuk garap Sulukan begitu juga banyak menggunakan bahasa Indonesia maupun bahasa campuran.
  • Cerira/lakon mengambil cerita lokal yang berkembang yakni kisah “Orang Rantai”. Sampai sekarang sudah tercipta tiga lakon yakni, Orang Rantai, Mas Ireng, dan Mbah Soero (Samin Suro Sentiko). Sebagai contoh berikut sinopsis cerita “Mah Soero. Tahun 1855 krisis ekonomi melanda Eropa. Negeri Belanda salah satunya, yang kala  itu masih menguasai  tanah air  tercinta ini. Pemerintahan Kolonial di Batavia yang dijabat  oleh Jendral  Van Limburg Stirum dengan politik etisnya dianggap tak bisa mengembalikan keterpurukan ekonominya. Kemudian digantilah   Jendral Volk untuk memimpin. Akan tetapi politik baru Jendral Volk justru dirasa semakin menekan rakyat Negeri ini. Ketidakadilan, ketimpangan, dan pemberontakan terjadi dimana-mana. Bagi yang menentang peraturan pemerintah kompeni kala itu, ditangkap lalu dirantai dan dijebloskan kedalam penjara. Mulai tahun 1862-1938 para tahanan kompeni yang dianggap memberontak, yang terdiri dari beberapa wilayah di tanah air ini, dibawalah  ke Sawahlunto, lalu dipekerjakan secara paksa untuk menjadi buruh dalam pengerjakan proyek tambang Batubara di Sawahlunto. Para tahanan itulah yang disebut dengan Orang Rantai.

Merekalah saksi kekejaman dan kebengisan dari orang-orang yang berkepentingan. Sungguh gelap  kehidupan di dalam tambang Batubara Sawahlunto kala itu,  bersamaan gelapnya perasaan orang rantai yang selalu tersiksa.  Kala itu ejekan, fitnah, hasutan/adu-domba dan adu Jotos antar saudara sebangsa setanah air, selalu terjadi dalam lobang yang sangat gelap, sempit dan pengap. Perlakuan tak manusiawi sering terjadi.  Samin Suro Sentika atau yang lebih dikenal dengan nama Mbah Suro merupakan salah satu diantara ribuan pekerja yang dikirim ke Sawahlunto.  Mbah  Suro dikenal sebagai tokoh yang arif bijaksana, jujur, sakti mandraguna, tegas sekaligus pemberani dalam menegakkan kebenaran dan gigih dalam memerangi kejahatan dan ketidakadilan. Nama Mbah Suro menyiratkan jejak dan meninggalkan sepenggal kisah yang tak terlupakan. Semoga para pahlawan mendapatkan tempat di sisiNYA. ( Sumber :Sriyanto 2014).