Anila

Adalah sosok berwujud kera bertubuh kecil, pendek, dan agak gendut, tetapi berakal cerdik. Dinamakan Anila karena bulunya berwarna nila. Campuran biru dan ungu. Dalam pewayangan ia dianggap berderajat ksatria. Karena kesaktian serta kecerdikannyalah maka ia diangkat sebagai patih di Kerajaan Guwakiskenda pada masa pemerintahan Prabu Sugriwa.

Kera yang berbulu nila ini dianggap sebagai anak Batara Narada, walaupun sebenarnya ia tidak pernah dilahirkan oleh siapa pun. Anila tercipta oleh kesaktian Batara Guru, dan diakukan sebagai anak Batara Narada.

Kisahkelahiran Anila adalah sebagai berikut. Ketika Anoman lahir, bayi kera itu bersama ibunya dibawa ke kahyangan.  Batara Guru sebagai ayahnya menggendong dan menimang-nimang bayi kera ber-bulu putih itu. Melihat pemandangan itu, Batara Narada tidak kuasa menahan rasa gelinya, sehingga ia tertawa terbahak. Batara Guru merasa tersinggung, lalu berkata, “Kakang Narada, cobalah lihat punggung Anda sendiri!”

Ternyata, pada saat itu juga di punggung Batara Narada telah menempel seekor bayi kera berwarna nila. Sesaat Batara Narada kebingungan, karena tiba-tiba ada bayi kera menggelendot di punggungnya.

Batara Guru berkata lagi, “Itulah anak Anda.”

Sesudah dewasa, Anila menjadi patih di Kerajaan Guwakiskenda, yakni ketika Prabu Sugriwa menjadi raja negeri itu. Seperti juga rajanya, Patih Anila pun ikut bertempur di pihak Ramawijaya ketika menggempur Kerajaan Alengka untuk membebaskan Dewi Sinta. Dalam peperangan akbar itu Patih Anila dengan bantuan Kapi Pramudya berhasil merebut Kembang Dewaretna yang sempat dirampas oleh Prabu Dasamuka dari tangan Batara Ganesya.

Anila bahkan berhasil membunuh Patih Prahasta yang mencoba mempertahankan Kembang Dewaretna. Kepala Patih Prahasta, paman Prabu Dasamuka, diremukkan dengan  sebuah tugu batu. Tugu itu adalah penjelmaan Dewi Windradi atau Indradi yang dikutuk oleh suaminya, Begawan Gotama. (Baca jugaIndradi, Dewi)

Sebagian dalang wayang kulit purwa mengatakan bahwa Anila berasal dari sehelai daun nila yang  ditempelkan di punggung Narada oleh Batara Guru.

Dalam pewayangan diceritakan, setelah Batara Guru dan Batara Narada masing-masing mempunyai anak berujud kera, para dewa yang hadir di tempat itu juga menertawakannya. Batara Narada lalu menitahkan agar semua dewa yang hadir di persidangan agung di kahyangan masing-masing mencipta seekor kera dan diadopsi sebagai anak mereka. Batara Guru setuju. Karenanya, 41 orang dewa yang saat itu hadir, masing-masing juga mencipta seekor kera sebagai anak mereka.

Kelak ketika Anoman sudah dewasa, Batara Guru memerintahkan agar Anoman turun ke dunia untuk membantu titisan Batara Wisnu, yaitu Ramawijaya. Demikian pula kera-kera anak dewa lainnya juga diperintahkan mengikuti Anoman.

Cerita mengenai Anila, di pedalangan Jawa Timur lain lagi. Menurut cerita wayang Jawatimuran, Anila adalah anak Subali dari istrinya yang bernama Dewi Mindradi. Dalam lakon Anggada Balik, Anila gugur ketika bertempur melawan Anggada yang memberontak pada Ramawijaya.

Peraga Anila Wayang Kulit Purwa gagrak Jawa Timur juga tidak segemukgagrak Surakarta dan Yogyakarta.

Lakon-lakon yang Melibatkan Anila

  1. Anggada Duta
  2. Rama Tambak
  3. Prahasta Lena
  4. Bukbis
  5. Brubuh Alengka