Abimanyu

Adalah putra kesayangan Arjuna dari salah seorang istrinya yang bernama Dewi Subadra,dalam pewayangan lebih dikenal dengan sebutan Wara Sembadra. Nama Abimanyu mengandung arti ‘kalau ia sedang marah, tak ada yang berani mendekat’. Abi atau abhi artinya dekat, manyu artinya marah.

Mengenai kisah kelahiran Abimanyu dalam pewayangan ada beberapa versi. Salah satu versi mengatakan Abimanyu bukan lahir dari rahim Dewi Subadra, melainkan dari paha Bima.

Kisah lengkapnya  sebagai berikut. Batara Guru, pemuka Kahyangan suatu ketika berkehendak mempersunting Dewi Kuntul Wilanten, putri Prabu Jumanten dari Kerajaan Gendingpitu. Sementara menunggu saat pernikahan, Batara Guru menugasi Bima menjaga putri cantik itu.

Sementara itu, Arjuna yang  juga jatuh cinta pada Kuntul Wilanten, melarikan putri Prabu Jumanten itu. Bima yang merasa bertanggungjawab atas sang Putri, marah besar. Arjuna segera dihajar. Tetapi pada saat itu Arjuna sedang disusupi Sang Hyang Wenang, sehingga ia kebal terhadap pukulan dan tendangan Bima. Pada suatu kesempatan Arjuna mengusap perut Bima, dan seketika itu juga Bima hamil.

Karena malu dengan keadaan dirinya, ditambah lagi malu karena merasa tidak sanggup memenuhi tugasnya menjaga Dewi Kuntul Wilanten, Bima berniat bunuh diri. Ia segera pergi ke Samudra Man-cingan, hendak menceburkan diri di lautan yang ganas itu. Dalam perjalanan Bima dihadang Anoman. Bujukan Anoman agar Bima membatalkan niatnya untuk bunuh diri, tidak dihiraukan. Akhirnya Anoman menolong Bima. Kandungan itu dipindahkan dari perut ke paha Bima. Anoman juga menolong persalinan sang Bayi dari paha Bima. Bayi lahir dengan selamat. Oleh Anoman bayi itu diberi nama Bimanyu sebagai tanda bahwa bayi itu lahir dari paha Bima.

Anoman lalu menyerahkan Bimanyu kepada Dewi Subadra untuk disusui. Kebetulan, Dewi Subadra saat itu sedang menderita penyakit kamisandanen, payudaranya bengkak. Penyakit itu hanya akan sembuh bilamana ada bayi yang menyusu padanya.Bimanyu itulah yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan Abimanyu.

Kisah kelahiran Abimanyu versi ini hanya ada pada sebuah lakon, yaitu lakon Kuntul Wilanten. Bagi kebanyakan peminat wayang kisah kelahiran Abimanyu yang seperti ini, dianggap sebagai  rekaan semata;bahkan terasa agak mengada-ada.

Abimanyu adalah seorang ksatria yang tampan, pendiam, berilmu tinggi, dan kuat bertapa. Itulah sebabnya ia berhasil mendapatkan Wahyu Cakraningrat, yang penting artinya bagi kemenangan keluarga Pandawa dalam Bharatayuda di kemudian hari. Menurut pewayangan di Indonesia, siapa yang berhasil mendapatkan Wahyu Cakraningrat kelak akan menurunkan raja-raja di Tanah Jawa.

Ketika berusaha memperoleh Wahyu Cakraningrat itu Abimanyu bersaing dengan Lesmana Mandra-kumara dan Samba Wisnubrata. Lesmana Mandrakumara adalah putra Prabu Anom Suyudana, raja Astina. Sedangkan Samba, putra kesayangan raja Dwarawati, Prabu Kresna.

Karena wahyu yang didapatnya itulah maka walaupun sebenarnya anak keluarga Pandawa yang tertua adalah Pancawala, anak sulung Puntadewa, namun seluruh keluarga Pandawa seolah sepakat bahwa Abimanyu adalah putra mahkota.

Abimanyu beristri dua orang. Istri pertama adalah Dewi Siti Sundari, putri Prabu Kresna, dan yang kedua Dewi Utari, putri bungsu Prabu Matswapati dari Kerajaan Wirata. Perkawinannya dengan Dewi Siti Sundari diatur oleh Prabu Kresna yang mengharapkan cucunya dapat menjadi raja di Tanah Jawa. Tetapi perkawinan itu ternyata tidak membuahkan keturunan karena istri pertama Abimanyu ini mandul. Sedang­kan dengan Dewi Utari, Abimanyu mendapat seorang putra yang tidak sempat ia saksikan kelahirannya. Abimanyu gugur dalam Bharatayuda ketika Dewi Utari tengah mengandung tua. Anak tunggal Abimanyu itu diberi nama Parikesit. Kelak setelah Bharatayuda usai dan Pandawa menang, Parikesit menduduki tahta Kerajaan Astina.

Ketika masih remaja Abimanyu pernah berperang melawan seorang raja gandarwa bernama Prabu Jayamurcita alias Angkawijaya dari Kerajaan Plangkawati. Raja gandarwa itu dibunuh Abimanyu karena Jayamurcita berusaha mempersunting Dewi Subadra, sewaktu ayahnya sedang tidak ada di Kasatrian Madukara. Sejak itu Abimanyu juga menyandang nama Jayamurcita atau Angkawijaya, sedangkan Plangkawati dijadikan kasatrian tempat tinggalnya. Nama lain Abimanyu adalah  Sumbadraja, Jaka Pengalasan, Wanudara, Kiritiatmaja, Partasuta, Partatanaya, Banjaransari dan Wirabattana.

Dalam Wayang Golek Purwa Sunda, nama alias Abimanyu masih ditambah lagi dengan Sidamukti, Murcalalana, dan Tanjunganom.

Pada sebuah lakon carangan, yakni lakon Kitiran Petak, Abimanyu kawin dengan Dewi Dratawati dari Kerajaan Banakeling. Namun lakon ini tidak begitu terkenal.

Dalam sebuah lakon sempalan yang berjudul Juwitaningrat, Abimanyu sekali lagi menyelamatkan keutuhan rumah tangga ayahnya. Menurut lakon itu, seorang raseksi sakti yang jatuh cinta pada Arjuna, mengubah ujud dirinya sebagai wanita cantik dan mengaku bernama Juwitaningrat. Arjuna terkecoh dan melayani cinta wanita raksasa itu. Lahirlah anak mereka, Bambang Semboto atau Bambang Senggoto.

Karena dimabuk cinta pada istri barunya, Abimanyu yang ketika itu masih kecil bersama Dewi Su-badra dibuang ke hutan. Abimanyu kemudian mengganti namanya menjadi Jaka Pengalasan untuk mem-bongkar rahasia Juwitaningrat. Berkat kesaktian Abimanyu dan bantuan ‘kakang kawah’ serta ‘adi ari-ari’, putra Arjuna itu berhasil memaksa Juwitaningrat kembali pada wujud aslinya, sedangkan Bambang Semboto mati terbunuh. Arjuna akhirnya menyadari kesalahannya dan menerima kembali Dewi Subadra sebagai istrinya. Lakon ini dikenal pula dengan lakon Jaka Pengalasan.

Dalam perang besar antara keluarga Pandawa dan Kurawa, yang dikenal dengan sebutan Bharatayuda, Abimanyu bersama dua orang adiknya, yaitu Bambang Sumitra dan Brantalaras belum boleh terjun ke medan perang. Ketiganya bahkan dilarang meninggalkan Istana Wirata. Ini menyebabkan Abimanyu kecewa dan masgul karena ia merasa telah mempersiapkan diri menghadapi perang besar itu selama bertahun-tahun. Baru pada hari ke-13, atas usul Prabu Puntadewa, Abimanyu diangkat sebagai panglima perang di pihak Pandawa.

Setelah semua keluarga Pandawa dan Prabu Kresna menyetujui usul Puntadewa itu, Semar dan anak-anaknya diutus menjemput ke istana Wirata.Gelar perang yang disusun pihak Pandawa hari itu adalah Sapit Urang, dengan Abimanyu bertindak sebagai sungutnya. Pasukan Kurawa yang dipimpin Begawan Drona menggunakan gelar perang DiradaMeta (Gajah Birahi). Abimanyu mengendarai kereta perang Kyai Pamuk, dihela dua ekor kuda kesayangannya, yakni Kyai Pramugari dan Kyai Pramukanya. Sedangkan yang menjadi sais adalah Bambang Sumitra, salah seorang adik tirinya yang dilahirkan oleh Dewi Larasati.

Sewaktu mendengar berita tentang kematian dua orang adiknya, yaitu Brantalaras dan Wilugangga oleh panah Begawan Drona, Abimanyu amat marah. Ia tidak lagi dapat mengendalikan diri. Diperintahkannya Bambang Sumitra yang menjadi sais kereta perangnya agar menerjang barisan Kurawa menuju ke tempat Begawan Drona berada. Sambil terus menerjang ke depan, Abimanyu membuka jalan bagi para prajuritnya. Anak kesayangan Arjuna itu menghujani pasukan Kurawa dengan ratusan anak panah. Banyak prajurit Kurawa yang menjadi korban.

Melihat situasi yang tidak menguntungkan itu, Begawan Drona sebagai senapati Kurawa mengubah gelar perang DiradaMeta menjadi Cakrabhuya (Roda Berputar) untuk menjebak Abimanyu. Jika nanti Abimanyu sudah masuk perangkap, gelar perang diubah lagi menjadi Sapit Urang, agar Abimanyu tidak lepas dari perangkap.

Siasat Drona ini berhasil. Karena terlalu bersemangat dan hatinya diliputi dendam membara, Abimanyukurang waspada sehingga ia masuk dalam perangkap. Tanpa disadarinya ia sudah berada dalam kepungan barisan Kurawa, terpisah dari pasukan yang dipimpinnya, sementara usahanya untuk mendekati Begawan Drona belum menampakkan hasil. Dalam keadaan terkepung itu, Adipati Karna berhasil memanah Bambang Sumitra sehingga gugur. Abimanyu segera mengambil alih tali kendali kereta perangnya, dan terus mendesak ke depan. Namun tak lama kemudian, Kyai Pramukanya terjerembab. Kuda terlatih itu pun tewas. Di tubuhnya tertancap belasan anak panah.

Abimanyu makin kalap. Dilepaskannya Kyai Pramugari dari kereta perangnya. Segera ia melompat ke punggung kuda itu, dan dipacunya menuju barisan musuh. Tekadnya masih tetap hendak membunuh Begawan Drona yang telah menyebabkan kematian adik-adiknya.

Karena serangan bertubi-tubi pasukan Kurawa, tubuh Abimanyu penuh luka tertancap anak panah dan tombak. Dalam lakon Abimanyu Gugur biasanya ki dalang mengibaratkan luka-luka yang diderita Abimanyu sebagai ‘tatune arang kranjang’.  Abimanyu akhirnya gugur dengan keadaan tubuh yang amat menyedihkan. Selain luka-luka karena anak panah dan tombak lawan, tubuh Abimanyu hancur diinjak-injak gajah yang dikendarai oleh Jayadrata, ipar Prabu Anom Suyudana. Bahkan kepala Abimanyu juga remuk dihantam gada Kyai Glinggang oleh Jayadrata.

Peristiwa gugurnya Abimanyu secara aniaya itu membuat Arjuna marah dan dendam sehingga ia me-ngucapkan sumpah akan bunuh diri bilamana keesokan harinya tidak dapat membalas kematian anaknya, membunuh Jayadrata. Dengan bantuan Prabu Kresna akhirnya Arjuna berhasil melampiaskan dendamnya membunuh Jayadrata.

Pahlawan muda Pandawa itu sungguh heroik. Walaupun badannya penuh panah dan tombak, tatu arang kranjang, sekujur tubuhnya penuh dengan darah, namun pahlawan muda itu bukan panik, justru ia tersenyum dan terus merangsekpasukanmusuh. Cahaya wajahnya makin gemilang tertimpa cahaya matahari yang memantulkan warna merah darahnya. Membuat Abimanyu kelihatan semakin tampan.

Sebelum gugur Abimanyu masih sempat membunuh banyak musuh, di antaranya  beberapa orang ke-luarga Kurawa, dan putra mahkota Kerajaan Astina, Lesmana Mandrakumara. Putra kesayangan Prabu Anom Suyudana itu tewas terkena anak panah pusaka Kyai Gusara yang dilepaskan Abimanyu. Senjata sakti itu didapat Abimanyu dari Prabu Kresna, mertuanya, sebagai kancing gelung(atau cunduk ukel adalah benda, biasanya berupa senjata, pemberian mertua pada menantunya sebagai ikatan keluarga).

Kyai Gusara dilepaskan Abimanyu pada saat iasudah hampir tidak berdaya. Lesmana Mandrakumara yang ikut mengeroyok  putra Arjuna itu, mengira Abimanyu sudah tidak lagi sanggup melawan. Ia ingin tampil sebagai pahlawan Astina dengan membunuh Abimanyu. Karena itu putra sulung Prabu Anom Duryudana itu datang mendekat hendak menikam Abimanyu yang pada saat itu masih tetap berdiri tegak walaupun tubuhnya penuh dengan luka. Namun sebelum niat Lesmana terlaksana, Abimanyu lebih dahulu melepaskan anak panah Kyai Gusara. Lesmana Mandrakumara terhuyung lalu roboh  dan jatuh di dekat kaki Abimanyu. Melihat hal itu, para Kurawa dan prajurit Astina berusaha mengambil jenazah Putra Mahkota Astina itu. Namun siapa pun yang mendekat akan dihadang anak panah Abimanyu.

Agar jenazah Lesmana bisa diambil, Jayadrata segera memacu gajah menerjang Abimanyu, sehingga putra Arjuna itu terkapar di tanah. Tangan kirinya masih tetap menggenggam busur, sedangkan di tangan kanannya anak panah. Sekali lagi Jayadrata melarikan gajahnya menginjak-injak tubuh Abimanyu. Setelah itu Raja Muda Sindukalangan/Banakeling itu melompat turun dari gajahnya, dan sekuat tenaga menghantamkan gada Kyai Glinggang ke kepala musuhnya, yang sudah tidak berdaya. Abimanyu gugur!

Kematian Abimanyu secara tragis dalam Baratayuda menurut pewayangan adalah karena termakan sumpahnya sendiri. Waktu ia hendak menikah dengan Dewi Utari, putri bungsu Prabu Matswapati itu ber-tanya, apakah Abimanyu masih perjaka. Abimanyu menjawab, masih perjaka. Dewi Utari tidak percaya, karena ia mendengar kabar angin tentang perkawinan Abimanyu dengan Dewi Siti Sundari, putri Prabu Kresna. Untuk meyakinkan kebenaran jawaban bohongnya, waktu itu Abimanyu berkata, “Aku benar-benar masih perjaka. Sumpah! Jika aku berbohong kepada Dinda, kelak dalam Bharatayuda nanti aku akan gugur secara aniaya dengan tubuh penuh luka.” Jagadpun bergetar mendengar sumpah Abimanyu.

Sebagai tanda kasih dan bakti pada suami, pada saat pembakaran jenazah Abimanyu, Dewi Siti Sundari melakukan bela pati. Istri pertama Abimanyu itu menerjunkan diri ke dalam api pembakaran jenazah. Istrinya yang lain, Dewi Utari tidak melakukan hal yang sama, karena ketika itu sedang mengandung tua.

Dalam cerita pewayangan, perkawinan antara Abimanyu dan Dewi Utari terselenggara sesudah Abimanyu memenangkan sebuah sayembara. Menurut sayembara itu, barang siapa sanggup menggendong Dewi Utari, ialah yang akan menjadi suaminya. Banyak pangeran dan raja yang mencoba mempersunting putri raja Wirata itu, namun tidak seorang pun yang sanggup menggendong Utari, kecuali Abimanyu. Hal ini karena Dewi Utari adalah putri yang mendapat Wahyu Widayat, sedangkan Abimanyu adalah ksatria yang memperoleh Wahyu Cakraningrat.

Dalam Kitab Mahabharata cerita lain mengenai perkawinan Abimanyu-Utari.Setelah Arjuna yang masih dalam penyamaran sebagai banci bernama Brehanala berhasil membantu memukul mundur serangan Astina atas Kerajaan Wirata, sebagai ungkapan rasa terima kasih Prabu Matsya menghadiahkan Dewi Utari kepada Arjuna untuk diperistri. Namun Arjuna walaupun amat menghargai hadiah itu, ia terpaksa menolak, karena selama setahun menyamar di Wirata, dan mengajar putri bungsu Prabu Matsya itu, ia sudah menganggap Utari sebagai anaknya sendiri. Ia mengusulkan agar Utari dikawinkan dengan Abimanyu, anaknya. Usul ini disetujui Prabu Matsya (dalam pewayangan disebut Prabu Matswapati), dan terjadilah perkawinan Abimanyu dengan Dewi Utari.

Perkawinan itu diselenggarakan secara meriah di Upalawya, daerah Wirata yang dijadikan pasanggrahan oleh para Pandawa. Pesta itu dihadiri antara lain oleh Prabu Kresna, Prabu Baladewa, Prabu Drupada, Prabu Salya, Resi Bisma, dan Begawan Drona, serta beberapa raja dari negara tetangga Wirata.

Tentang kematian Abimanyu, dalam Mahabharata dikisahkan, pada hari ke-13 itu Patih Sengkuni me-rancang gelar perang Cakrabhuya dengan tujuan menjebak Raja Puntadewa agar  masuk dalam kepungan perangkap. Namun Resi Drona mengingatkan bahwa strategi itu mengandung kelemahan, karena Arjuna sudah faham bagaimana memecahkan formasi gelar perang itu. Dengan demikian Arjuna tentu akan memperingatkan saudara-saudara dan panglima pihak Pandawa lainnya agar Puntadewa tidak terjebak.

Prabu Anom Duryudana tetap menyetujui usulPatih Sengkuni itu, sehingga strategi gelar perang Cakrabhuya dilaksanakan pihak Kurawa.Supaya siasat perang ini berhasil, Duryudana lalu memerintahkan Prabu Gardapati dan Patiwresaya untuk memancing agar Bima dan Arjuna terpisah menjauh dari padang Kurusetra.  Bilamana Arjuna jauh dari gelanggang, gelar Cakrabhuya tentu akan berhasil. Bima tidak akan bisa melindungi Puntadewa.

Pada pagi hari itu Wresaya berhasil membuat panas hati Arjuna, sehingga ksatria Pandawa itu me-ngejarnya sampai jauh ke luar gelanggang. Demikian pula Gardapati berhasil memancing Bima untuk menjauhi padang Kurusetra. Menjelang tengah hari, siasat perang Cakrabhuya digelar. Dengan kepiawaian Drona mengatur pasukan, Puntadewa terjebak dalam kepungan formasi yang melingkar seperti gasing.

Di dunia ini tidak banyak panglima yang mampu memecahkan formasi gelar cakrabyuha. Mereka adalah Bhisma, Drona, Arjuna dan Abimanyu. Melihat gelagat yang gawat dan bahaya mengancam rajanya, Abimanyu segera menggebrak keretanya untuk memecahkan formasi cakrabyuha yang sudah terlanjur menutup rapat. Gelar itu sungguh hebat. Bagaikan pusaran air bah yang sambung menyambung tiada hentinya. Dengan heroik diterjangnya sebuah kunci kelemahan dari pasukan itu sehingga pecah keseimbangannya. Sesaat Puntadewa segera bisa diselamatkan oleh pasukan Pandawa. Namun dia sendiri masuk ke dalam putaran dan tersedot makin ke dalam. Abimanyu akhirnya terperangkap di dalam pasukan musuh.

Abimanyu terkepung sendirian di tengah barisan musuh. Sekaligus ia harus menghadapi tujuh orang panglima perang, yaitu Resi Drona, Patih Sengkuni, Aswatama, Karna, Dursasana, Salya, dan Duryudana.

Sebelum gugur, Abimanyu sempat membunuh Lesmana Mandrakumara dan mempermalukan Begawan Drona serta Prabu Salya dengan melukai mereka. Ia  juga  sempat bertanya, mengapa orang-orang yang ia hormati itu sampai hati melanggar hukum perang dengan mengeroyok dirinya. Akhirnya pahlawan muda itu gugur sebagai kusuma bangsa, Taruna Kusuma Layu.

Dalam seni kriya Wayang Kulit Purwa gagrak Yogyakarta, Abimanyu dilukiskan dalam tiga wanda, yakni Padasih, Sedet, dan Kanyut. Sedangkan pada gagrak Surakarta, terdiri atas sebelas wanda, yakni Bontit, Banjed, Brebes, Jayenggati, Kanyut, Malatsih, Mangu, Mriwis, Panji, Rangkung, dan Bulus.

Pada Wayang kulit purwa Jawatimuran, Abimanyu dirupakan dalam dua bentuk, yakni Abimanyu ore, yang rambutnya diurai sampai ke bahu; dan Abimanyu ukel, yang rambutnya digelung mirip Arjuna.  Abimanyu ore digunakan untuk peran masa remaja, sedangkan yang ukel untuk Abimanyu dewasa.

Berikut berbagai Lakon yang Melibatkan Abimanyu

  1. Abimanyu Lair (Lahirnya Abimanyu)
  2. Bambang Senggoto (Bambang Semboto)
  3. Bambang Wijanarka
  4. Abimanyu Kerem
  5. Abimanyu Gendong
  6. Murcalelana
  7. Bima Kopek
  8. Abimanyu Krama
  9. Gendreh Kemasan
  10. Gambir Anom
  11. Wahyu Cakraningrat
  12. Wahyu Widayat
  13. Kitiran Petak (Kitiran Putih)
  14. Mayanggana
  15. Abimanyu Gugur/Abimanyu Ranjab (Bharatayuda)