Gunungan

Ada rupa wayang, bukan tokoh tetapi berupa pohon simbolik yang disebut kayon. Kayon dari kata kayu atau pohon. Karena bentuknya seperti gunung maka disebut gunungan. Rupa wayang gunungan ini besar kegunaannya  baik dalam pentas wayang maupun makna filosofis yang terkandung didalamnya. Bahkan gunungan ini  menjadi “ikon” wayang, utamanya wayang kulit purwa. Gunungan menjadi representasi wayang. Siapa yang menciptakan gunungan yang besar peranannya ini, sampai sekarang belum tahu pasti tetapi kehadiranya di sekitar tahun 1915 M, ketika jaman Kasultanan Demak. Karena itu sering disebutkan gunungan diciptakan oleh wali. Walisanga berhasil merekayasa  atau “membesut” seni budaya wayang yang Hinduistik menjadi Islami. Memang oleh para wali digunakan untuk dakwah Islam.

Semula gunungan itu hanya ada satu berupa Gunungan “blumbangan” kemudian pada jaman kerajaan Surakarta, Pakubuwono II membuat Gunungan gapuran. Dua macam Gunungan itu menjadi sepasang. Hingga sekarang sepasang gunungan itu menjadi “penanda” kehadiran atau eksistensi wayang. Akhir-akhir ini ada kreasi gunungan baru berupa “gunungan krowak” ciptaan Bambang Suwarno. Hampir semua jenis wayang mempunyai gunungan dengan bentuk berbeda-beda, misalnya gunungan wayang kulit parwa Bali berbentuk bulat telor atau lonjong. Sedang gunungan pada wayang kulit purwa berwujud sebuah segitiga yang bergambar rumah/gapura disebut kayon gapuran atau kayon lanang (laki-laki), sedang yang ada kolamnya disebut kayon blumbangan atau wadon (perempuan).

Kayon gapuran bentuknya ramping, pada bagian bawah bergambar gapura pada sisi kiri dan kanan di jaga oleh raksasa Cingkarabala dan Balaupata. Sedangkan pada bagian belakang terdapat lukisan api merah membara. Atap rumah diapit oleh dua kepala rakasasa yang bersayap, dan diatasnya ada pohon yang berdaun lebat. Pohon  itu diapit oleh lembu dan harimau. Di pangkal dahan terdapat kepala raksasa dengan lidahnya yang terjulur. Di atas kepala raksasa itu terdapat ular yang menjulur ke bawah, ekornya membelit melingkari poros utama pohon itu. Di atas pohon bergelantungan bermacam-macam binatang: kera, berjenis-jenis burung, termasuk burung merak, burung merpati, lebah, kumbang, dan juga jenis harimau yang dapat memanjat pohon. Di puncak gunungan yang berbentuk segitiga terdapat gambaran api yang menyala sehingga gunungan juga menggambarkan sebuah ekosistem. Hewan-hewan yang ada dalam kayon ini dapat dibedakan antara lain hewan darat, hewan air, mapun hewan udara.

Kayon blumbangan, bentuknya agak gemuk dan lebih pendek bila dibanding dengan kayon gapuran, Pada bagian bawah terdapat lukisan kolam dengan air yang jernih yang ditengahnya terdapat lukisan sepasang ikan berhadapan. Sedangkan pada bagian belakang berambar lautan atau langit yang berawarna biru gradasi.

Gunungan di dalam pagelaran wayang mempunyai fungsi sangat penting, antara lain : sebagai tanda dimulaiya pentas pedalangan yakni ditandai dengan dicabutnya kayon di tengah kelir kemudian ditancapkan pada posisi sebelah kanan. Gunungan juga sebagai tanda perubahan adegan atau menggambarkan suasana dengan cara gunungan digerakkan diikuti cerita dalang. Selanjutnya untuk menandai berakhirnya pertunjukan dengan menancapkan kayon di tengah-tengah. Gunungan digunakan untuk tanda pergantian waktu, baik dari patet nem ke patet sanga, atau dari patet sanga ke patet manyura dengan mengubah posisi gunungan dari condong ke kanan menjadi tegak lurus dan terakhir gunungan condong ke arah kiri. Disamping itu Gunungan  dalam pertunjukan wayang juga berfungsi sebagai sebagai pengganti atau perlambang antara lain : air, api, gunung maupun angin.

Sedangkan fungsi gunungan  dalam pertunjukan wayang Bali menurut I Wayan Nardayana, antara lain sebagai pembuka lakon, yakni sebelum dalang mencabut kayon lalu menggerak-gerakkan kayon/tari kayonan sebelum lakon dimulai. Gunungan juga sebagai pembatas antara pihak wayang kanan dan wayang kiri. Setelah kayon digerak-gerakkan atau ditarikan lalu ditancapkan pada tengah-tenagah kelir. Dalang lalu menancapkan wayang disebelah kanan dan kiri kayon. Kelompok wayang yang mempunyai sifat baik ditancapkan disebelah kanan. Kelompok wayang yang mempunyai sifat jahat ditancapkan di sebelah kiri kayon. Adegan ini disebut jejer yang tujuannya untuk memperkenalkan kepada penonton tokoh-tokoh wayang (kecuali panakawan) yang berperan dalam lakon yang akan dipentaskan.

Pada tengah pertunjukan, gunungan juga  berfungsi antara lain, pengantar gending, pergantian babak, tanda istirahat perwujudan ajian, pengantas sabda gaib, lambang unsur-unsur alam, hiasan atau dekorasi dll. Selanjutnya gunungan juga sebagai penutup lakon.

Gunungan adalah simbol kehidupan, jadi setiap gambar yang berada di dalamnya melambangkan seluruh alam raya beserta isinya mulai dari manusia sampai dengan hewan serta hutan dan perlengkapannya.  Gunungan/kayon gapuran merupakan simbol makrokosmos yang menggambarkan alam semesta atau Jagad Raya (Jagad besar), sedang kayon blumbangan merupakan simbol mikrokosmos yakni penggambaran dunia kecil (Jagad kecil/cilik).

Bentuknya yang seperti kerucut mengingatkan pada bentuk tumpeng dalam upacara slametan atau punden berundak dalam jaman prasejarah. Kerucut yang apabila dilihat dari samping seperti segitiga yang menjulang tinggi, atau huruf Yunani Delta           huruf yang dikenal sebagai awal kata Dei, DEUX, Theo, yang berarti Tuhan. Penampang kerucut yang mempunyai bentuk lingkaran adalah lambang garis yang tak berawal dan tak berakhir, yang berarti abadi, Tuhan, yang tak berawal dan berakhir. Bentuk kerucut seperti gunung, sesuai dengan pandangan magis./simbolis terutama untuk orang Jawa yang pulaunya mengandung berpuluh-puluh gunung berapi yang memberi kehidupan bagi masyarakat; juga menggambarkan alam adikodrati. Gunungan bentuknya juga sesuai dengan pandangan dualistik orang Jawa yaitu berbentuk simetri, dan isinya juga terlihat adanya keseimbangan antara bagian kiri dan bagian kanan.

Pintu gerbang, melambangkan batas antara alam dunia dengan alam adikodrati, yang dalam wayang disebut Kahyangan. Dua raksasa penjaga pintu adalah Cingkarabala dan Balaupata, yang menjaga Sela Matangkep, pintu masuk ke Kahyangan. Dua raksasa kembar tersebut lengkap dengan perlengkapan jaga pedang dan tameng diinterprestasikan melambangkan penjaga alam gelap dan terang.

Rumah  yang indah dengan lantai bertingkat tiga yang terdapat dalam kayon gapuran dapat dipandang sebagai tempat tinggal dewa-dewa di kahyangan ataupun tempat tinggal manusia di dunia yang didalamnya ada kehidupan yang aman, tenteram, dan bahagia. Sedangkan kolam yang berisi air dalam kayon blumbangan dapat ditafsirkan sebagai sumber penghidupan. Dua kepala raksasa bersayap. Sayapnya melambangkan sinar matahari, sebagai sumber energi bagi kehidupan..

Pohon memberi kehidupan bagi manusia, sebagai, peneduh, sebagai penghasil makanan, dan sebagai penghasil oksigen untuk pernapasan. Pohon keramat yang digambarkan sebagai kalpataru juga disebut pohon harapan (Wishing Tree), pohon kehidupan atau pohon hayat (Tree of Life), atau pohon dunia (World Tree) Gambaran Kalpataru itu dapat kita lihat pada relief-relief candi Borobudur, Mendut, Prambanan, Sajiwan dll. Sekarang kalpataru menjadi simbol lingkungan hidup, dan orang atau kelompok orang yang berhasil memperbaiki lingkungannya diberi penghargaan yang dikatakan mendapat Hadiah Kalpataru. Ranting pohon yang berjumlah empat menunjukkan arah mata  angin yakni Barat, Utara, Timur, Selatan.

Harimau dan lembu di kiri dan kanan pohon, menunjukkan keseimbangan dengan adanya binatang buas dan binatang jinak. Lembu membantu pekerjaan petani, juga memberi susu, daging, maupun kotoran untuk pupuk. Harimau pada gunungan juga melambangkan manusia harus menjadi Pemimpin bagi dirinya sendiri (punya jati diri) sehingga harus mampu bertindak bijaksana dan mampu mengendalikan nafsu serta hati nurani untuk menuju yang lebih baik dan maju, sehingga bisa bermanfaat untuk diri sendiri, orang lain dan alam semesta. Karena bila manusia tidak mampu menjadi Pemimpin bagi dirinya sendiri dan tidak mampu mengendalikan diri sendiri akan berakibat fatal dan semua akan hancur musnah seperti halnya Gunungan wayang bila dibalik akan menjadi berwarna merah menyala (terbakar).

Banteng pada Gunungan Wayang Kulit melambangkan manusia harus kuat, lincah, ulet dan tanguh. Makara, adalah gambar kepala rakasasa yang sedang menjulurkan lidahnya. Ia disebut juga banaspati, makhluk halus penjaga hutan. Makara ini melambangkan manusia dalam kehidupan sehari-hari mempunyai sifat rakus, jahat seperti setan.

Kera pada Gunungan Wayang Kulit melambangkan manusia harus mampu memilih dan memilah antara baik-buruk, manis-pahit seperti halnya kera pintar memilih buah yang baik, matang dan manis, sehingga diharapkan kita bertindak yang baik dan tepat ( bener tur pener).

Berjenis-jenis binatang di pohon diantaranya burung termasuk burung merpati. yang dipercaya sebagai perlambang roh orang yang telah meninggal. Sampai saat ini pada selamatan seribu harinya seseorang  yang meninggal,masih banyak yang melepaskan burung merpati, dengan harapan bahwa roh orang yang meninggal tadi dapat lepas dan tidak berkeliaran di dunia fana lagi; meskipun orang yang mengadakan selamatan itu telah memeluk agama Islam atau Kristen. Ular, pada kepercayaan orang Jawa, menempati kedudukan khusus. Sampai saat ini banyak petani yang tidak berani membunuh ular sawah, karena dianggap penjelmaan Dewi Sri, dewi padi. Ia juga dianggap teman pengembala, sehingga disebut ula lare angon (ular anak gembala). Ular memiliki arti simbolik tidak hanya dalam wayang, tetapi juga dalam kehidupan nyata. Ia membawa keberuntungan bagi yang menghormatinya, namun akan membawa bencana bila ia diperlukan tidak baik. Secara rasional mengapa petani tidakmau membunuh ular sawah, karena secara tidak sadar ternyata ular memangsa tikus, hama padi.

Gambar ilu-ilu Banaspati (jin atau setan) pada bagian belakang Gunungan Wayang Kulit melambangkan bahwa hidup di dunia ini banyak godaan, cobaan, tantangan dan mara bahaya yang setiap saat dapat mengancam keselamatan manusia.

Sebelum pertunjukan wayang dimulai, dalang mencabut gunungan yang tercancap di gedebog dan menggerak-gerakkan, bahkan diputar-putarnya. Itu menggambarkan bermulanya proses kehidupan dengan bercampurnya atau berinteraksinya unsur-unsur alam yang disebut yang mewujudkan alam semesta sebagai makrokosmos, badan manusia sebagai mikrokosmos.

Sedang dalam pertunjukan wayang Bali, Gunungan mempunyai makna antara lain makna religius. Dalam pertunjukan wayang Bali, Gunungan sebagaimana wayang lain ada proses ritual yang dilakukan sebelum wayang dipentaskan. Tanpa melalui proses itu tidak akan ada rasa mantab dalam melakukan pementasan. Bakkan saat wayang itu dibuat pun ada mantra-mantra yang harus diucapkan. Dan setelah selesai juga diupacarai agar menjadi benda yang sakral. Proses ritual ini menunjukkan adanya kekuatan yang elbih besar yang dapat membuat wayang kayonan menjadi keramat karena dipercayai telah mendapat restu dari Tuahn.

Gunungan juga bermakna kemanunggalan. Sebelum kayon ditarikan, dalang memegang kayon dibelakang lampu blencong dengan mengucapkan mantra yang bertujuan menyatukan diri dengan dewa sembilan sebagai penguasa seluruh penjuru jagad raya. Dismaping itu Gunungan menggambarkan siklus kehidupan. Tari kayonan pada awal pertunjukan sebagai simbol penciptaan alam semesta. Nanum sebelum kayon ditarikan, kelir dalam keadaan kosong hanya sinar lampu yang menyala. Ini mengandung makna bahwa sebelum ada penciptaan, dunia ini dalam keadaan kosong yang ada hanyalah esensi Tuhan yang disimbolkan dengan dalang yang bersembunyi dibelakang lampu. Kekosongan itu sebagai badan Tuhan berbentuk telur keemasan, sehingga bentuk kayonan Bali bulat telor atau lonjong. Setelah dalang melakukan penyatuan dengan Tuhan mulailah dengan melakukan penciptaan dengan menarikan kayon. Gerakan ke kanan dan ke kiri dan berputar-putar merupakan simbol terjadinya proses penciptaan.

Gunungan mengandung makna kesejahteraan dan pelestarian lingkungan. Dilihat dari bentuk dan fungsinya dalam pertunjukan wayang Bali mengandung makna kesejahteraan. Dan Gunungan juga mengandung makna kerja.  Sejak awal pertunjukan wayang, kayon selalu bergerak-gerak  bergetar seperti kehidupan makhluk hidup yang bernafas. Gerak kayon tersebut mengandung makna bahwa setiap mahkluk hidup  secara alamiah tidak mampu menghindar dari aktivitas kerja. Dalam agama Hindu kerja artinya karma yakni jalan menuju Tuhan dengan menggunakan sarana kerja yang tulus iklas tanpa pamrih.