Pandangan Hidup dan Pandangan Dunia Wayang

Pandangan hidup di satu sisi dan pandangan dunia (worldview) di sisi lain sering dipahami secara identik, namun pandangan hidup cukup terbedakan dari pandangan dunia meskipun sulit dibuat pembelahan yang tajam bedanya itu. Pada intinya pandangan hidup adalah tetapan- tetapan  mendasar sebagai ajaran tentang bagaimana manusia harus merumuskan respons terhadap soal-soal pokok kehidupannya. Ranah pandangan hidup lebih ke ranah budaya yang sifatnya preskriptif- normatif.  Dalam hal pandangan dunia tetapan- tetapan itu terbuhul dalam ranah kepengetahuan dan bersifat intelektual kognitif sebagai basis, akar, pilar maupun payung, rujukan orientasi dari kinerja ilmu pengetahuan. Di satu sisi pandangan dunia berdimensi filosofis dan di sisi lain justru merupakan paradigma bagi ide-ide filosofis.

Dalam penjelasan Clifford Geertz worldview adalah, ”Gambaran kenyataan apa adanya, konsep tentang alam, diri dan masyarakat dan yang mengandung gagasan-gagasan paling komprehensif tentang tatanan.” Kerney menjelaskan worldview sebagai:”descriptions and analyses of the ways in which different peoples think about themselves, about theory, environments, space, time …is reffered to as the study of worldview.” Selain itu, “A worldview is the very skeleton of concrete cognitive assumptions on which the flesh of customary behaviour is hung.”

Keberadaan worldview dalam konteks modernitas di mana ilmu menjadi pilarnya yang pokok misalnya dijelaskan oleh Fischer. “Science and technology, because of their existence and because of their significance, must be ralted somehow to world-view, or, conversely, one’s world-view must somehow include places for science and technology.” Krisis modernitas dan krisis ilmu pengetahuan modern maka itu akan sampai pada pemahaman tentang krisis pandangan dunia sebagai batu pijaknya. Suatu pandangan dunia alternatif yang digali dari khasanah budaya lokal genius seperti halnya dunia pewayangan akan mempunyai arti penting. Menurut Pudjawijatna (1975) wayang adalah lambang bagi dunia dan manusia yang berpokok pada paham keselarasan yang terbuhul pada ajaran monodualitas, sangkan-paran dan kaidah-kaidah dunia itu sendiri. “Inilah pandangan dunia menyeluruh yang tidak berat sebelah..,” demikian Pudjawijatna.

Bahwa ilmu pengetahuan modern dapat dikembangkan sedemikian rupa sehingga sangat berpengaruh terhadap budaya global, hal itu berarti betapa pandangan dunia keilmuan modern juga hegemonik terhadap bangunan, fungsi, dan makna  budaya global. Menurut Jacob Bronowski (1978) ilmu (science) itu sendiri mewujudkan dirinya sebagai praksis pandangan dunia yang menebarkan kepak-kepak sayapnya melalui budaya modern yang  diterima secara nyaris tak sadar dengan segala kesukarelaan oleh masyarakat di luar asal-usul tradisi modernitas; yakni dunia Timur. Kesukarelaan akseptabilitas inilah yang disebut dengan hegemoni.

Dari lain pihak, sejak modernisasi sampai modernisme adalah nyata bahwa bukan hanya hegemoni melainkan bahwa pengaruh budaya ilmiah modern bagi masyarakat sedunia khususnya bangsa-bangsa Timur telah berjalan secara ketaksukarelaan, yakni dalam wataknya yang imperialistik-kolonialistik. Realitas kepenjajahan itu menjadi  mainstream kebudayaan dan keilmuan sejak kemunculan orientalisme sebagai suatu gerakan keilmuan. Di sini Barat membangun  perumusan  alam ketimuran menurut cara pandang Barat. Dari lain pihak apabila ditinjau menurut tujuannya, orientalisme berusaha memahami Timur dalam rangka kepenjajahannya, minimum kepenguasaannya. Kepenjajahan dan kepenguasaan itu khususnya  berlangsung dalam ranah metodologi keilmuan dimana  positivisme ilmiah menjadi acuan yang dianggap objektif universal berdasarkan kaidah-kaidah ilmu pengetahuan kealaman. Doktrin yang disebarkan adalah doktrin netralitas ilmu (value free) pada hal dari segi sosiologi ilmu sesuatu paradigma, konsep dan teori ilmiah tidak pernah terlepas dari latar sosiokultural masyarakat dimana ilmu dilahirkan dan dikembangkan.

Maka itu, dalam persepsi visioner penelitian tentang local genius dan local wisdom seperti dunia pewayangan ini hendaknya sanggup merumuskan kritik terhadap orientalisme yang bisa berlangsung melalui kanal-kanal postkolonialisme, postmodernisme maupun perenialisme. Dalam hal filsafat wayang, basis kritisisme terhadap hegemoni dan kepenjajahan modern dapat dieksplorasi agar mampu merumuskan pandangan dunia pewayangan yang seperti apa; sejauh mana kemampuan adaptif dan fleksibilitasnya berinteraksi dengan pandangan dunia keilmuan- modern sebagaimana selama jangka waktu yang lama budaya kenusantaraan ini mampu merumuskan jatidiri melalui akulturasi sebagai metodologi.