Sudah disebutkan bahwa budaya wayang khususnya wayang purwa sangat kaya akan ajaran kebijaksaaan yang menunggu dan memanggil aksi kepakaran guna melakukan pemikiran eksploratif secara keilmuan akademik. Tugas ini bisa dimulai dari kategorisasi Alan R.Drengson (“Philosophy Today,” Summer,1982) yang memperbedakan dunia filsafat ke dalam tiga jenis dan jenjang: (1) filsafat noneksplisit, (2) filsafat sistematis, dan (3) filsafat kritis atau filsafat kreatif.
Filsafat noneksplisit dalam budaya tradisional disebut dengan “Falsafah.” Filsafat noneksplisit semacam ini bertebaran di seluruh budaya etnik Nusantara dalam wujud tradisi lisan, adat-istiadat, tabu-tabu dan lain sebagainya yang pada dasarnya mempunyai substansi religio- kultural. Pepatah-petitih dalam budaya Minangkabau, paribasan, saloka, lelagon dolanan, dan sebagainya dalam budaya Jawa adalah contoh-contohnya. Tentunya akan mengental juga pada khasanah budaya etnik kenusantaraan lainnya.
Budaya wayang bukan hanya memuat isi seperti itu melainkan kaya akan muatan kepengetahuan atau dalam budaya Jawa dinamakan “kawruh.” Inilah sebagian penting dari muatan falsafah dalam wayang selain dari muatan mistisismenya, yang tersebar dalam pergelaran wayang. Sebaran itu bergerak ekspresif melalui sejumah wahananya seperti irama gending dan nyanyian waranggana; suluk, dan pocapan berbagai figur wayang oleh Ki Dalang. Perangkat fisik seperti kelir dan batang pisang (gedebog) yang melambangkan makna konotatif yang terungkap secara simbolik.
Filsafat sistematis menurut Drengson adalah suatu tipe filsafat keilmuan akademik sebagaimana diajarkan di berbagai perguruan tinggi, bahkan di Perancis sudah diawali di sekolah menengah. Sebagai filsafat akademik, pengetahuan filosofis ini terbagi dalam cabang-cabang filsafat umum, filsafat sistematis, dan sejarah filsafat. Cara pendekatan dalam pembelajaran filsafat akademik bisa ditempuh melalui studi tokoh atau filsuf, misalnya filsafat Plato, filsafat Imannuel Kant, filsafat Hegel. Di sisi lain dapat juga dilakukan melalui studi tematik sebagaimana cabang filsafat dan filsafat sistematis. Filsafat akademik juga mempelajari mazhab, aliran atau school of thought yang lazim dibubuhi dengan istilah “isme,” seperti: Platonisme, Thomisme, Marxisme; Rasionalisme, Intuisionisme, Empirisme, Hedonisme, dan aliran lainnya.
Adapun filsafat kritis atau filsafat kreatif adalah jenjang optimal studi filsafat manakala studi itu dikehendaki bukan hanya untuk maksud pemahaman melainkan sekaligus maksud perubahan. Bila dalam TOR Filsafat Wayang ini pada babak akhirnya dimuarakan dalam tahap aplikasi, kemauan ini berarti bahwa penelitian filsafat wayang seharusnya sampai pada jenjang filsafat kritis. Aplikasi berarti bagaimana dapatnya dipakai, diberlakukan bahkan dikerahkan dari hasil penelitian untuk suatu sasaran yang ditentukan. Dengan kata lain, mesti ada konstruksi tindakan sebagai konsekuensi dari konsepsi filosofis yang telah disusun. Di sini pandangan dunia dan pandangan hidup pewayangan mampu berimpit dengan etos.
Dengan maksud aplikasi itu akan dituntut bahwa penelitian filsafat wayang ini dalam perjalanan panjangnya menemukan suatu kerangka tindakan kreatif-inovatif. Tuntutan ini dalam leksikon aliran filsafat disebut bermuatan pragmatis; “pragma” itu bermakna “tindakan” (bukan langsung ke “manfaaat” sebagaimana dimengerti secara salah-kaprah). Pragmatisme sebagai aliran filsafat kritis secara mendasar menghendaki kebenaran yang dapat dipersaksikan melalui tindakan nyata sebagai konsekuensi dari apa yang diyakini benar. Namun harus segera ditegaskan bahwa bangunan filsafat wayang bukanlah bangunan filsafat pragmatisme; yang dikehendaki adalah bangunan itu nanti sekaligus berdimensi pragmatis dalam arti, muatan energi perubahan apa yang dapat dibawa oleh filsafat wayang.
Contoh pemikiran pragmatis adalah seperti berikut. Bila Anda yakin bahwa percaya kepada Tuhan adalah suatu kebenaran, pragmatisme tidak terikat kepada konsep ketuhanan mana pun melainkan akan menuntut apakah dari keyakinan Anda bisa disaksikan tindakan-tindakan yang cocok dengan nilai-nilai ketuhanan sebagai konsekuensi dari keyakinan Anda. Apakah dengan tindakan-tindakan konsekuensial itu Anda memetik manfaat hidup berbahagia? Jika ke dua pertanyaan itu gagal disaksikan dalam berbagai peristiwa kehidupan Anda, pragmatisme akan mengatakan bahwa kepercayaan ketuhanan Anda adalah salah. Jika sesuatu disebut berciri pragmatis, maka sesuatu itu harus terbuktikan dalam realitas sebagai hal yang bergerak “memeristiwa.”
Dengan demikian, apakah hasil penelitian filsafat wayang ini kelak akan mampu merumuskan suatu strategi kehidupan kebangsaan yang mampu berpartisipasi dalam mengubah kehidupan masyarakat dan bangsa menuju tujuan nasional; lebih dari itu, berkontribusi untuk mengubah tata-kehidupan global pertanyaan semacam ini merupakan pertanyaan pragmatis. Wahana bagi keperluan untuk menjawabnya adalah bahwa penelitian ini harus sampai ke taraf filsafat kritis atau filsafat kreatif.
