Posisi Wayang Dalam Kajian Filsafat

Dalam rangka menyusun filsafat wayang penting untuk menempatkan posisi wayang itu dalam kerangka pemikiran filsafat. Filsafat Wayang sebagai pemikiran dunia Timur, menempati posisi sebagai pemikiran Timur, yang mempunyai ciri-ciri khasnya, antara lain mementingkan harmoni. Sedangkan, secara khusus filsafat wayang menempati ranah pemikiran khas nusantara.

Posisi seni budaya wayang dalam kajian filosofis dapat ditinjau dari beberapa  aspek sebagai berikut,

  1. Budaya wayang sebagai pemikiran khas nusantara adalah hasil akulturasi budaya yang telah berlangsung dari abad ke abad dengan pengaruh besar budaya Jawa, Hindu,Bali, Sunda dan budaya Nusantara lainnya,bahkan budaya global.
  2. Wayang memiliki watak terbuka dalam menghadapi berbagai pengaruh budaya tersebut, mampu mengantisipasinya berkat kekuatan ‘hamot, hamong, hamemangkat,’ yakni kemampuan menerima pengaruh dari luar untuk disaring dan diolah guna memperkuat budaya wayang. Selain mengandung aspek statika, maka wayang mengolah secara kontinyu aspek dinamikanya.
  3. Dihadapkan pada pengertian filsafat, budaya wayang yaitu unsur falsafahnya dapat dikategorisasi ke dalam filsafat sebagai pandangan hidup, bukan filsafat akademik yaitu ilmu filsafat. Jika ilmu filsafat bertumpu pada kemampuan rasio, nalar atau cipta, guna menganalisis sedalam-dalamnya tentang segala sesuatu; filsafat wayang diperoleh dengan paduan kemampuan daya cipta, rasa dan karsa manusia.
  4. Jika pemikiran Barat cenderung mengabaikan harmoni, pemikiran Timur justru menempatkan harmoni sebagai postulat. Pemikiran Barat berobsesi pada kenyataan objektif berkat kekuatan manusia sebagai subyek ‘penguasa’ realitas, sedangkan pemikiran Timur subyek bisa mengalami objeknya; yang dicapai adalah kenyataan intersubyektif. Barat memperoleh pengetahuan teknologis yang sering menjauh dari kesejatian realitas, Timur mencapai pengetahuan yang lebih ke lapis fenomenologis sebagai jalan menggapai pengetahuan sejati. Idiom ‘manunggaling kawula Gusti’ adalah frasa filosofis ketimuran tentang kesanggupan pencapaian realitas sejati.