Menggagas Filsafat Wayang

Filsuf terkemuka Amerika Serikat, Archie J Bahm menyatakan adanya empat peradaban besar dunia yakni Eropa Barat, Islam, India, dan Tiongkok. Walaupun Bahm tidak menyebut Nusantara, tidaklah berarti wilayah ini nihil dari wacana kepengetahuan dunia. Oleh sebab itu hadirnya Filsafat Nusantara menjadi sangat penting. Untuk itu Solichin, Ketua Umum SENA WANGI menggagas Filsafat Wayang sebagai salah satu khasanah pemikiran di Nusantara.

Secara manajerial SENA WANGI telah melakukan studi guna merumuskan filsafat wayang dengan melakukan kerja sama dengan berbagai lembaga pendidikan tinggi yang memiliki kompetensi, antara lain Universitas Gadjah Mada, Universitas Indonesia, dan Institut Seni Indonesia Surakarta; juga dengan lembaga- lembaga kajian nonuniversiter yang kredibel.

Dari fakta krisis mondial-universal yang harus diakui merupakan ‘hasil’ tak dikehendaki dari modernitas yang bersumber pada filsafat Barat melalui praksis keilmuan dan teknologi, makin terasa kebutuhan untuk segera mengembangkan filsafat Timur, filsafat Nusantara, dan filsafat Wayang. Lebih jauh keberhasilan merumuskan filsafat wayang akan kontributif  bukan hanya bagi kepentingan nasional melainkan sekaligus kepentingan dunia.

Dalam upaya menggali dan mengolah filsafat Nusantara itu seni-budaya wayang merupakan sumber substansi yang kaya dan tiada kering-keringnya. Wayang telah ada, tumbuh dan berkembang sejak lama hingga kini melintasi perjalanan panjang sejarah kebudayaan Indonesia. Daya kembang dan daya tahannya cukup teruji dalam menghadapi berbagai tantangan dari waktu ke waktu, antara lain tampak dari seni pedalangan, dengan berbagai elemen seninya dalam pergelaran wayang dengan kualitas yang makin tinggi dan adiluhung.

Jika dibandingkan dengan berbagai teater boneka sejagat, pertunjukan wayang misalnya wayang purwa memiliki berbagai keunggulan, sehingga para pakar Barat dalam kekagumannya menyatakan sebagai “the most complex and sophisticated theatrical form in the world.” Adalah juga Stutterheim menegaskan betapa wayang adalah suatu karya kebudayaan yang berfungsi arsenal dari bentuk- bentuk kehidupan dan kesopansantunan (Daoed Joesoef; 1986).

Seni pedalangan unik dan canggih, karena dalam pergelarannya sanggup memadukan dengan serasi beraneka ragam seni, seperti  drama, seni suara, seni sastra, seni kriya dengan dalang sebagai pemeran sentralnya. Dalang, bersama para seniman pendukung pangrawit, swarawati, wiraswara, dan sebagainya menampilkan sajian seni yang sangat menarik. Wayang hadir dalam wujudnya yang utuh baik dalam aspek etika, estetika, maupun falsafahnya.

Pesan etis dari pertunjukan wayang mengacu kepada pembentukan budi luhur atau akhlaqul karimah yang tidak sebatas tertuju pada kehidupan pribadi manusia melainkan menjangkau sasaran sosial dan kenegaraan. Dalam gerak pikir yang makin mendalam, kian asyik orang menekuni pertunjukan wayang akan menemukan makna yang terdalam dari pertunjukan itu yakni nilai-nilai hakiki dan falsafah hidup dan kehidupan. Nilai falsafah merupakan isi dan kekuatan utama pertunjukan wayang, sehingga wayang adalah tontonan namun lebih dari itu sekaligus tuntunan. Orang Jawa mengatakan ”wewayangane ngaurip” yakni bayangan hidup manusia yang mencerminkan kehidupan manusia dari lahir sampai akhir hayat. Wayang bukan hanya shadow play seperti anggapan banyak orang.

Maka, dari khasanah pergelaran wayang dapat disusun “ilmu” tersendiri yaitu filsafat wayang lengkap dengan objek, metode, sistem, substansi, dan aplikasinya. Falsafahnya tampak pada pandangan hidup baik implisit maupun eksplisit yang terkandung dalam wayang seperti dalam janturan, sulukan, antawacana, wejangan dan sebagainya. Aspek pandangan hidup atau falsafah wayang terserak- serak tidak tersusun secara sistematis, masih merupakan filsafat noneksplisit dalam kategori Alan R. Drengson. Dari khasanah falsafah itulah bisa disusun secara bertanggung jawab suatu konstruksi filsafat akademik karena memenuhi syarat-syarat sebuah ilmu yakni mempunyai objek, metode dan sistem (Solichin)