Kisah Karna bermula dari pertemuan Dewi Kunthi dengan Resi Druwasa. Pada suatu hari negara Mandura kedatangan tamu seorang pendeta bernama Druwasa. Dewi Kunti ditugasi Prabu Basukunti ayahnya, untuk menjamu pendeta itu. Dewi Kunthi seorang wanita yang cantik jelita, cerdas, luwes, patuh dan sabar. Resi Druwasa merasa senang, sebagai tanda terimakasih Resi Druwasa memberi hadiah kepada Kunti mantra sakti yang bernama Aji Adityar Hedaya atau Aji Dipamanunggal atau disebut juga Aji Pameling. Mantra sakti ini dapat digunakan untuk mendatangkan dewa sesuai dengan yang diinginkan.
Pada suatu hari ketika Kunthi bangun tidur, tidak segera bangkit meninggalkan pembaringan. Ia ingin merasakan keindahan dan merasakan kehangatan sinar matahari yang masuk di kamarnya. Melihat sinar matahari yang mengenai tubuhnya, Kunthi membayangkan sosok Batara Surya, dewa yang menguasai matahari. Tiba-tiba Kunti teringat mantra sakti Aji Pameling pemberian Resi Druwasa. Sebagai dara belia, ia tergoda untuk mencoba menggunakan. Dia membaca mantra sakti tersebut. Hasilnya sungguh luar biasa, selesai membaca mantra Aji Pameling, tiba-tiba telah hadir Dewa Surya dan siap memberinya seorang putra. Kunti yang ketakutan menolak karena ia sebenarnya hanya ingin mencoba keampuhan Adityahredaya saja. Batara Surya menyatakan dengan tegas bahwa Adityahredaya bukanlah mainan. Dengan sabda sang dewa, Kunthi pun mengandung.
Atas kejadian itu Prabu Basukunti marah. Ia memanggil Resi Druwasa untuk meminta pertanggungjawaban atas pemberian Aji Pameling kepada Kunthi. Ketika usia kandungan Kunthi sudah berumur sembilan bulan lebih sepuluh hari, dengan kesaktiannya Resi Druwasa membantu kelahiran bayi dengan mengeluarkanya lewat telinga. Karena lahir melalui telinga atau karna maka bayi itu dinamakan Karna. Upaya melahirkan bayi melalui telinga adalah perwujudan tanggung jawab Resi Druwasa untuk memulihkan keperawanan Kunthi, bahwa Kunthi masih gadis, belum beranak. Tetapi keberadaan bayi tetap menjadi aib. Maka untuk menjaga nama baik negara Mandura, terpaksa Karna dihanyutkan di sungai Gangga dalam sebuah keranjang.
Bayi itu terbawa arus sampai akhirnya ditemukan oleh Adirata yang bekerja sebagai kusir kereta di istana Astina. Adirata dengan gembira mengangkat bayi itu sebagai anaknya. Sejak lahir Karna sudah memakai pakaian perang lengkap dengan anting-anting dan kalung pemberian Batara Surya, maka bayi itu diberi nama Basusena.
Basusena diasuh dan dibesarkan dalam keluarga Adirata, sehingga ia dikenal dengan julukan Sutaputra (anak kusir) atau Radheya, yang artinya anak Radha (istri Adirata). Adirata dan istrinya merawat Karna dengan tulus dan kasih sayang. Karna tumbuh menjadi anak yang cerdas berani dan jujur. Setelah menginjak dewasa, Karna sering bepergian mencari ilmu. Ketika pada suatu waktu Karna lewat di Sokalima, ia ingin bergabung dengan para Kurawa dan para Pandawa untuk bersama-sama berguru kepada Durna. Tetapi keinginannya tidaklah mungkin kesampaian, karena Karna bukan golongan ksatria. Ia hanya anak seorang sais kereta. Anak seorang sais kereta pantasnya juga menjadi sais kereta. Adirata memberi kereta kuda agar dipakai Karna untuk belajar menjadi sais. Adirata bapaknya dan Nyi Rada Ibunya, tidak tahu apa yang dilakukan Karna anaknya, namun kedua orang tua itu melihat anaknya telah tumbuh menjadi remaja yang tampan, terampil, percaya diri dan yang istimewa Karna tidak pernah mengeluh menghadapi segala macam kesulitan hidup.
Menjadi anak yang berbakti kepada orang tua memang tidak mudah. Perlu pengorbanan sebagai tanda bakti kepada orang tua. Karna harus belajar menjadi sais, tetapi Karna tidak ingin seperti bapaknya. Agar tidak mengecewakan orang tua, Karna selalu menyisihkan waktu untuk berlatih mengendarai kereta kuda, tetapi tidak untuk menjadi sais kereta, melainkan untuk menjadi senapati perang dikelak kemudian hari.
Karna yang sudah bertekad bulat untuk menuntut ilmu dan berusaha mendapatkan guru sakti yang tidak kalah dibandingkan dengan kesaktian Durna. Karna menemukan guru sakti, ahli bermain senjata kapak dan panah, yaitu Rama Parasu. Namun Rama Parasu mempunyai dendam pribadi kepada ksatria, tidak mau menerima murid seorang ksatria. Karna tetap hendak berguru pada Rama Parasu dengan menyamar sebagai seorang brahmana. Rama Parasu akhirnya mengetahui Karna berbohong dan mengutuk ilmu yang diajarkan tidak berguna lagi untuk Karna.
Ketika tiba waktunya, Durna mempertunjukkan hasil pendidikan para Pandawa dan Korawa di hadapan para bangsawan dan rakyat Astina lewat pendadaran atau ujian. Setelah melaui berbagai tahap pertandingan, Durna akhirnya mengumumkan bahwa Arjuna adalah murid terbaiknya, terutama dalam ilmu memanah. Tiba-tiba Karna muncul menantang Arjuna sambil memamerkan kesaktiannya. Resi Krepa selaku pendeta istana meminta Karna supaya memperkenalkan diri terlebih dahulu karena untuk menghadapi Arjuna haruslah dari golongan yang sederajat. Mendengar permintaan itu, Karna pun tertunduk malu.
Duryudana anak Drestarastra maju membela Karna. Menurutnya, keberanian dan kehebatan tidak harus dimiliki oleh kaum ksatriya saja. Namun apabila peraturan mengharuskan demikian, Duryudana mendesak ayahnya, yaitu Dretarastra raja Astina, supaya mengangkat Karna sebagai raja bawahan di Angga. Dretarastra yang berhati lemah tidak mampu menolak permintaan putra kesayangannya itu. Pada saat penobatan Karna, Adirata juga hadir, sehingga semua orang tahu kalau Karna adalah anak Adirata. Bimasena mengejeknya sebagai anak kusir sehingga tidak pantas bertanding melawan Arjuna yang berasal dari kaum bangsawan. Sekali lagi Duryudana tampil membela Karna.
Adipati Karna sungguh bahagia. Kebahagiaannya tidak semata-mata pengangkatan dirinya sebagai seorang adipati, melainkan dengan pengangkatan dirinya, jalan terbuka lebar untuk dapat berperang tanding melawan Arjuna, dikelak kemudian hari. Sejak saat itu terjalin persahabatan Karna dengan Duryudana. Karna resmi dinobatkan menjadi raja Angga.
Apabila Karna dilahirkan Kunthi melalui anugerah Batara Surya, maka, Arjuna lahir melalui anugerah Batara Indra. Menyadari kesaktian Karna, Batara Indra merasa cemas kalau Arjuna kelak sampai kalah jika bertanding melawan putra Batara Surya itu. Maka, Batara Indra pun merencanakan merebut baju pusaka Karna dengan menyamar sebagai seorang pendeta. Karena jika mengenakan pakaian pusaka tersebut, Karna tidak mempan terhadap senjata jenis apa pun.
Rencana Batara Indra terdengar oleh Surya. Ia pun memberi tahu Karna. Namun Karna sama sekali tidak risau. Ia telah bersumpah akan hidup sebagai seorang dermawan sehingga apa pun yang diminta oleh orang lain pasti akan dikabulkannya.
Batara Indra yang menyamar sebagai seorang resi tua datang menemui Karna saat sedang sendirian. Ia meminta sedekah berupa baju perang dan anting-anting yang dipakai Karna. Karna pun mengiris semua pakaian pusaka yang melekat di kulitnya sejak bayi tersebut menggunakan pisau. Batara Indra terharu menerimanya. Ia pun membuka samaran dan memberikan pusaka Indrastra baru berupa Konta (yang bermakna “tombak”) sebagai hadiah atas ketulusan Karna. Namun, pusaka Konta hanya bisa digunakan sekali saja, setelah itu ia akan musnah. Menurut versi lain pusaka Konta yang diperoleh Karna bukan anugerah Batara Indra, melainkan dari Batara Guru. Menurut versi ini Senjata Konta disebut dengan nama Kuntawijayadanu, sebenarnya akan diberikan kepada Arjuna yang saat itu sedang bertapa mencari pusaka untuk memotong tali pusar keponakannya, yaitu Gatotkaca putra Bimasena. Dengan bantuan Batara Surya, Karna berhasil mengelabui Batara Narada yang diutus Batara Guru untuk menemui Arjuna.
Setelah masa hukuman atas kekalahan dalam permainan dadu berakhir, para Pandawa pun muncul kembali untuk mendapatkan hak mereka atas Kerajaan Indraprastha. Pihak Korawa menolak dan memaksa Pandawa merebutnya dengan jalan perang. Pandawa pun mengirim Kresna sebagai duta menuju Hastinapura. Dalam kesempatan itu, Kresna menemui Karna dan mengajaknya berbicara empat mata. Ia menjelaskan bahwa Karna dan para Pandawa sebenarnya adalah saudara seibu. Apabila Karna bergabung dengan Pandawa, tentu Yudistira akan merelakan takhta Astina untuknya.
Karna menghadapi dilema yang sangat besar. Dengan penuh pertimbangan ia memutuskan tetap pada pendiriannya yaitu membela Korawa. Ia tidak mau meninggalkan Duryudana yang telah memberinya kedudukan, harga diri, dan perlindungan saat dihina para Pandawa dahulu. Rayuan Kresna tidak mampu meluluhkan sumpah setia Karna terhadap Duryudana yang dianggapnya sebagai saudara sejati.
Disamping itu Karna menolak dengan alasan sebagai seorang kesatria, ia harus menepati janji bahwa ia akan selalu setia kepada Duryudana. Kresna terus mendesak bahwa dharma seorang kesatria yang lebih utama adalah menumpas angkara murka. Dengan membela Duryudana, berarti Karna membela angkara murka. Karena terus didesak, Karna terpaksa membuka rahasia bahwa ia tetap membela Korawa supaya bisa menghasut Duryudana agar berani berperang melawan Pandawa. Ia yakin bahwa angkara murka di Hastinapura akan hilang bersama kematian Duryudana, dan yang bisa membunuhnya hanya para Pandawa. Karna yakin bahwa jika perang meletus, dirinya pasti ikut menjadi korban. Namun, ia telah bertekad untuk menyediakan diri sebagai tumbal demi kebahagiaan adik-adiknya, para Pandawa.
Setelah Durna gugur dalam perang Baratayuda pada hari kelima belas, Duryudana menunjuk Karna sebagai panglima yang baru. Karna maju perang dengan Salya raja Madraka sebagai kusir keretanya, dengan harapan bisa mengimbangi Arjuna yang dikusiri Kresna.
Karna kemudian bertanding melawan Arjuna. Keduanya saling berusaha membunuh satu sama lain. Ketika Karna mengincar leher Arjuna menggunakan panah Nagasatra, diam-diam Salya memberi isyarat pada Kresna. Kresna pun menggerakkan keretanya sehingga panah pusaka tersebut meleset hanya mengenai mahkota Arjuna. Pertempuran tersebut akhirnya tertunda oleh terbenamnya matahari.
Pada hari ketujuh belas, perang tanding antara Karna dan Arjuna dilanjutkan kembali. Setelah bertempur dalam waktu yang cukup lama, kutukan atas diri Karna pun menjadi kenyataan. Ketika Arjuna membidiknya menggunakan panah Pasupati, salah satu roda kereta Karna terperosok ke dalam lumpur sampai terbenam setengahnya. Karna tidak peduli, ia pun membaca mantra untuk mengerahkan kesaktiannya mengimbangi Pasupati. Namun, kutukan kedua juga menjadi kenyataan. Karna tiba-tiba lupa terhadap semua ilmu yang pernah ia pelajari dari Parasurama. Arjuna pun melepaskan panah Pasupati yang melesat memenggal kepala Karna. Karna pun tewas seketika. Keris pusaka Karna yang bernama Kaladite tiba-tiba melesat ke arah leher Arjuna. Arjuna pun menangkisnya menggunakan keris Kalanadah, peninggalan Gatotkaca. Kedua pusaka itu pun musnah bersama.
Oleh Sri Mangkunegara IV, Karna dijadikan sebagai teladan yang tercamtum dalam Serat Tripama, seperti yang tersurat dalam tembang Dhandhanggula
Yogya malih kinarya palupi, Suryaputra Narpati Ngawangga, Lan Pandhawa tur kadange, Len yayah tunggil ibu, Suwita mring Sri Kurupati, Aneng nagri Ngastina,Kinarya gul-agul, Manggala golonganing prang, Bratayuda ingadegken senapati, Ngalaga ing Korawa.
Terjemahan
Baik pula untuk teladan, Suryaputera raja Ngawangga, Dengan Pandawa (ia) adalah saudaranya,Berlainan ayah tunggal ibu, (ia) mengabdi kepada Sri Kurupati, Dijadikan andalan, Panglima di dalam perang Bratayuda, (ia) diangkat menjadi senapati, Perang di pihak Korawa.
Minungsuhken kadange pribadi, Aprang tandhing lan sang Dananjaya, Sri Karna suka manahe, Dene sira pikantuk, Marga dennya arsa males-sih, Ira sang Duryudana, Marmanta kalangkung, Dennya ngetog kasudiran, Aprang rame Karna mati jinemparing, Sumbaga wirotama.
Terjemahan
Dihadapkan dengan saudaranya sendiri, Perang tanding melawan Dananjaya, Sri Karna suka hatinya, Karena (dengan demikian) ia memperoleh jalan untuk membalas cinta kasih, Sang Duryudana, Maka ia dengan sangat, Mencurahkan segala keberaniannya, (dalam) perang ramai Karna mati dipanah (musuhnya), (akhirnya ia) mashur sebagai perwira utama.
Tokoh Basukarna adalah gambaran dari pribadi pahlawan yang mempunyai “innerlife story” yang unik dan multikompleks. Sebagai anak yang tidak mendapatkan kasih sayang dari orang tua kandung, ia tumbuh menjadi pribadi yang keras dan teguh dalam memperjuangkan prinsip hidup. Berbagai dilema mesti dihadapi, yang banyak memberikan pelajaran baginya untuk berbuat “teguh dalam prinsip, tetapi luwes dalam praktek” suatu kebijaksanaan terpuji. Basukarna bukan tokoh yang gila pangkat, tanpa menghayati lebih lanjut proses psikologis dan biografinya. Basukarna adalah tokoh dari pribadi yang terlantar dan sukses.

