Di negara Rogastina, Prabu Subalinata dihadap Paman Patih Jembawan lagi membicarakan adiknya Sugriwa yang sedang dihukum di atas pohon kamal di hutan Indrasana dan Dewi Anjani yang sedang bertapa di Pertapan Cibuk Cangkiran. Tiba-tiba datang Bagong yang menyampaikan surat tantangan dari Raden Sugriwa. Bagong disuruh menunggu di alun-alun.
Di Alun-alun Subali menemui Sugriwa. Subali mengatakan kalau akan mengampuni Sugriwa bila minta maaf dan mengakui kesalahannya dan akan diberi kewenangan kembali ke negara Rogastina. Sugriwa tidak mau menuruti saran Subali bahkan menantang perang. Kalau Subali dapat dikalahkan maka akan bisa mengawini kedua istri Subali yakni Dewi Mindarada dan Dewi Mindaradi. Mendengar ucapan Sugriwa tersebut, Prabu Subali marah, terjadilah perang keduanya. Subali mengeluarkan ajian Narantaka dihantamkan Sugriwa hingga kesakitan lalu melarikan diri diikuti Bagong.
Syahdan Dewi Anjani sudah selesai bertapa di Cibuk Cangkiran , wujudnya yang semula kera kembali menjadi wanita yang cantik tetapi sekarang berbadan dua. Dewi Anjani kembali ke Rogastina lalu bertemu dengan Subali. Subali sangat marah melihat Anjani hamil tanpa seorang laki-laki, sehingga dihajar mau dibunuh lalu dilerai Patih Jembawan. Tiba-tiba datanglah Batara Narada yang menjelaskan kalau kehamilan Anjani sudah takdir Tuhan sebagai syarat kembalinya wujud Anjani dari kera ke manusia lagi. Dewi Anjani dititipi anak dari dewa maka harus dijaga sampai melahirkan.
Subali dipersalahkan Batara Narada karena tega mau membunuh saudaranya sendiri. Dan berdosa pada anak yang ada dalam kandungan Dewi Anjani. Maka sebagai tebusan kesalahan tersebut, Subali harus mau memberikan semua kesaktiannya kepada anak yang ada dalam kandungan Dewi Anjani. Subali merasa bersalah lalu memberikan semua kesaktiannya dengan memberikan bisikan pada anak yang ada dalam kandungan Dewi Anjani. Selanjutnya Batara Narada kembali ke kahyangan.
Tak lama kemudian Anjani melahirkan anak berupa kera titisan Reca Basukara diberi nama Anjila. Anjila menanyakan pada Subali, makanan kera itu apa? Di jawab Subali makanan kera itu Lobang artinya buah yang sudah matang. Maka ketika pagi hari Anjila melihat ketimur saat matahari muncul berwarna merah akan dimakan. Tapi setelah mendekat terkena daya panasnya matahari tidak tahan lalu jatuh dan tewas. Melihat Anjila tewas Batara Guru turun ke dunia menghidupkan kembali lalu digendong dibawa ke kahyangan. Batara Narada dan para Durandara pada tertawa melihat Batara Guru menggendong kera. Karena merasa malu para dewa disabda menggendong kera semua. Para dewa merasa berdosa lalu minta maaf. Selanjutnya para kera dikumpulkan menjadi pengikutnya Raden Anjila. Raden Anjila diberi nama Batara Guru, yakni Raden Senggana lalu disuruh kembali ke negara Rogastina.
Di hutan Indrasana Raden Regawa dan Merdapa menerima kedatangan Sugriwa dan melaporkan tentang peperangannya dengan Subali. Regawa sangat marah lalu bersama-sama pergi ke negara Rogastina. Sugriwa disuruh memberikan tantangan pada Subali.
Mendengar tantangan Sugriwa, Subali ke Alun-alun. Begiru melihat Regawa, Subali terkejut sebab melihat cahaya kuning kebiruan yang keluar dari badan Regawa. Warna itu adalah cahaya Batara Wisnu, Subali merasa bersalah lalu minta pengampunan pada Raden Regawa. Subali teringat ketika membunuh Harjuna Wijaya yang tanpa dosa karena mendapat laporan Dasamuka. Subali merasa bersalah namun Regawa belum percaya, orang hutang harus mengembalikan sesuai dengan karmanya. Mendengar ucapan Regawa, Subali menjadi mati berdiri. Regawa belum mempercayai, seorang raja brahmana kenapa mati dengan berdiri seperti matinya pohon kering. Subali lalu hilang beserta jasadnya, Regawa juga belum percaya karena seperti matinya bangsa Jin. Lalu Sang Hyang Darmajaka keluar dari raga Prabu Subali dan Batara Wisnu keluar dari raga Raden Regawa lalu keduanya berunding mengenahi kehidupan dan kematian. Bagaimana caranya bisa membunuh namun tidak terkena dosa.
Setelah sepakat lalu kedua dewa tersebut kembali re raganya masing-masing. Raden Regawa diberi Panah Pamungkas dan berpesan kelak kalau dirinya sudah meninggal menitipkan anaknya yakni Anggada dan Anila. Panah tersebut lalau dilepaskan ke dada Subali menjadikannya tewas. Ibarat mati dari senjatanya sendiri tapi yang mengantarkan Raden Regawa. Subali meninggal berubah menjadi Candhi.
Regawa berpesan pada Patih Jembawan dan Patih Semanda supaya merawat Anggada dan Anila sebab akan menjadi calon raja Rogastina setelah dewasa. Regawa lalu kembali ke hutan Indrasana melanjutkan membabat hutan.
Setelah selesai membabat hutan lalu dipuja menjadi kerajaan lengkap dengan isinya diberi nama negara Ngayuja. Dalam keraton terdapat pohon ringin berjejer lima maka dinamakan Pancawati. Raden Regawa menjadi raja dengan gelar Prabu Rama Wijaya. Raden Merdapa sebagai senopati kerajaan dengan nama Raden Lesmana Dewa bertempat di Pertapan Dhendha Kaya. Patih Sugriwa merangkap sebagai Raja Guwa Kiskenda, bekas kerajaan Prabu Maesa Sura. Patih Sugriwa diserahi mencari prajurit untuk emnjaga keamanan negara.
Syahdan Sugriwa bertemu Raden Anjila yang dikawal berjuta-juta kera turun dari kahyangan akan ke negara Rogastina. Diberitahu Sugriwa kalau Subali sudah meninggal. Kalau mau bertemu dengan ibunya masih di Rogastina prajurit sedang para kera diminta untuk dijadikan prajurit negara Ngayuja (Sumber Ki Surwedi).
