Muda, ganteng, sakti itulah Bambang Sumantri. Ia adalah putra Resi Suwandagni dari pertapaan Argasekar. Ibunya Dewi Darini, seorang bidadari keturunan Batara Sambujana. Sumantri mempunyai seorang adik bernama Bambang Sukrasana, berwujud raksasa kerdil/bajang. Sumantri dan Sukrosono kakak-beradik yang saling menyayangi satu sama lain. Selain ahli dalam tata pemerintahan dan ketatanegaraan. Sumantri juga mahir dalam olah keprajuritan dan menguasai berbagai tata gelar perang.
Setelah dewasa Sumantri mengabdi pada Prabu Arjuna Sasrabahu di Maespati. Oleh ayahnya dipesan, “Sumantri walau kau tinggal di kota jangan lupa selalu prihatin atau bertapabrata. Maksudnya bertapa di tengah pergaulan hidup yang disebut “tapa ramai” yakni bertapa ditengah-tengah alam keramaian. Bertapa sambil bekerja dan beramal kepada masyarakat. Mengabdi raja amatlah sulit tidak boleh ragu-ragu harus berketetapan hati dan setia kepada raja, melaksanakan segala perintahnya. Wajib mengabdi dengan sepenuh keiklasan agar tidak memenui kesulitan lahir batin. Hidup rukun damai sesama manusia harus ditanamkan dalam sanubari dan dilaksanakan dalam hidup sehari-hari. Dan tunjukkan kemampuan bekerja menyelesaikan tugas, curahkan segala perhatian dan kepandaian dalam tugas”.
Cerita tersebut populer di tengah masyarakat dan sering dipentaskan dengan lakon Sumantri “ngenger”. Sumantri menghadap Prabu Arjuna Sasrabahu. Dia mohon diijinkan mengabdi dan membaktikan diri untuk tanah airnya. Prabu Maespati bersedia menerima pengabdian Sumantri dengan syarat khusus dan berat. Saat itu Prabu Arjuna Sasrabahu sedang jatuh cinta pada Dewi Citrawati putri Prabu Citrawijaya raja Magada. Sumantri ditugaskan melamar dan membawa pulang Dewi Citrawati ke Maespati yang waktu itu menjadi rebutan/lamaran raja-raja dari seribu negara, Sumantri pun menyanggupinya.
Setelah tiba di Magada, Sumantri mendapati bahwa ternyata sudah banyak raja-raja dari 1000 negara yang berkumpul di Magada dengan tujuan yang sama. Tapi pihak kerajaan Magada masih juga menggantung keputusannya. Karena banyaknya pelamar akhirnya diadakan adu kesaktian. Terjadilah perang tanding para raja 1000 negara. Namun tidak ada raja satupun yang mampu mengimbangi kesaktian Sumantri.
Sumantri berhasil memboyong Dewi Citrawati ke Maespati. Tetapi sebelum menyerahkan kepada Prabu Arjunasasra, ia lebih dulu ingin menguji kemampuan dan kesaktian Prabu Arjunasasra sesuai dengan cita-citanya ingin mengabdi pada raja yang dapat mengungguli kesaktiannya. Sambil tersenyum mendengar tantangan Sumantri, Arjuna Sasrabahu melepas semua atribut “raja”nya dan meladeni Sumantri dalam sebuah perang tanding yang setara, adil dan seru. Karena terdesak, Sumantri kemudian mengeluarkan senjata pamungkasnya yakni Cakra. Arjuna Sasrabahu yang merasa tidak perlu untuk melakukan sampai sejauh itu, kemudian merubah wujud atau tiwikrama menjadi raksasa sebesar gunung bertangan seribu (Sasrabahu=seribu tangan). Sumantri tidak mampu menandingi kesaktian Prabu Arjuna Sasrabahu. Sumantri sadar dan tunduk kepada Arjuna Sasrabahu. Arjuna Sasrabahu dengan penuh kasih sayang memaafkan Sumantri. Sumantri kemudian disuruh memindahkan Taman Sriwedari dari Kahyangan Untarasegara ke negara Maespati. Sebuah pekerjaan yang belum pernah dilakukannya. Adiknya, Raden Sukrasana membantu dan terlaksanalah tugasnya dengan baik. Saat itu, Raden Sumantri malu diikuti oleh adiknya yang buruk rupa ke istana, dia menakut-nakuti dengan senjata agar tidak mengikutinya. Terlepaslah senjata Sumantri membunuh Sukrasana tanpa sengaja. Sumantri menyesal lalu menubruk adiknya, tapi jasadnya menghilang dari pandangan. Terdengar suara adiknya yang menyatakan tetap ingin bersama Sumantri. Dia akan menunggu kakaknya untuk pergi ke surga, sambil menginatkan kakaknya agar berhati-hati kalau berhadapan dengan seorang raja raksasa.
Sumantri sangat kasihan kepada adik yang sangat disayanginya, dan tidak tega meninggalkan Sukrosono sendirian di rumah. Namun, rasa kasihan terhadap adiknya tertutupi oleh rasa malun bila harus mengajak Sukrosono yang buruk rupa. Sumantri sangat menyesal dan sejak saat itu berubah menjadi ksatriya yang bijaksana.
Peristiwa ini memberi pelajaran bahwa hidup perlu dijalani apa-adanya tanpa harus dipenuhi kepura-puraan. Sikap menerima semua kekurangan dengan lapang dada akan membuat hidup terasa lebih ringan. Jauhkan rasa gengsi, kerja keras penuh semangat serta bersikap jujur akan membuat hidup lebih bermakna dan bermartabat. Jangan merasa malu dengan kondisi serba kekurangan. Jadikan kekurangan sebagai cambuk untuk berusaha lebih keras demi meraih cita-cita dengan cara terhormat.
Akhirnya Prabu Arjuna Sasrabahu menerima pengabdian Bambang Sumantri dan mendapat gelar yang sangat prestisius di Kerajaan Mahespati, yakni “Patih Suwondo”. Jabatan patih adalah jabatan tertinggi setelah tahta Arjuna Sasrabahu.
Dewi Citrawati, wanita cantik dan manja. Ia ingin mandi di sungai Gangga bersama para pembantunya. Untuk menuruti keinginan istrinya Prabu Arjuna Sasrabahu triwikrama berbaring melintangi sungai gangga sehingga membendung airnya yang mengakibatkan banjir di negara Alengka. Dengan murka rahwana memerintahkan pasukannya menyerang Arjuna Sasrabahu. Dengan sigap Patih Suwondo menghadapi Rahwana. Bala tentara Alengka porak poranda , tidak sanggup melawan kesaktian Patih Suwondo. Dalam pertarungan sengit, Patih Suwondo beberapa kali menebas leher Rahwana, tetapi begitu kepala Rahwana menyentuh bumi, dia hidup lagi. Sebagai ksatriya Patih Suwondo terus bertarung demi Ibu Pertiwi. Ia tidak melarikan diri dari tanggung jawab, bertarung sepenuh hati melawan Rahwana sampai hembusan napas terakhir. Akkhirnya ia gugur dalam pertempuran melawan Prabu Rahwana, yang dalam taringnya menjelma arwah Sukasrana.
Mendengan kematian Sumantri, Arjuna Sasrabahu murka. Perang tanding terjadi antara Arjuna Sasrabahu dan Rahwana. Dengan aji rawarontek, Rahwana tidak dapat terbunuh. Namun dengan anak panah Kalamanggaseta, Rahwana dapat ditawan dan diseret dengan kereta dibawa ke Alun-alun dipertontonkan pada rakyat Maespati. Menyaksikan penderitaan Rahwana, Resi Pulasto turun dari Surga memohonkan maaf pada Arjuna Sasrabahu.
Rahwana, ingin menguasai dunia. Dengan ajian ‘rawerontek’ ia bisa hidup kembali ketika terbunuh. Ia mempergunakan kekerasan untuk mencapai obsesinya. Namun ada satu raja yang ditakuti dan pernah mengalahkannya yaitu Prabu Arjuna Sasrabahu. Rahwana terobsesi kecantikan Dewi Widowati yang menjilma pada Dewi Citrawati, istri Prabu Aarjuna Sasrabahu. Untuk itu Rahwana mengatur siasat ‘memlintir’ berita bahwa Sang Prabu telah mati dalam peperangan melawan dirinya. Ketika mendengar kabar suaminya meninggal. Dewi Citrawati melakukan bunuh diri. Prabu Arjuna Sasrabahu sangat sedih ditinggal istrinya. Ia pergi mengasingkan diri dan akhirnya memilih mati di tangan Rama Parasu.
Liku-liku hidup perjuangan Sumantri menunjukkan bahwa ia adalah tokoh yang energik, kuat, cerdas, konsekuen dan berbangga diri. Tidak heran bahwa ia dapat mencapai tataran tertinggi dalam jabatan negara sebagai Perdana Menteri (patih).
Watak dan tekat patih Suwondo dipuji oleh pujangga besar Sri Mangkunegara IV di dalam bukunya Tripama (tamsil). Dalam Tripama, Sri Mangkunegara IV mengetengahkan moralitas, kepahlawanan, kesetiaan dan dedikasi terhadap bangsa dan negara dengan memberikan tiga tokoh wayang yang pantas diteladani. Salah satu tokoh yang diketengahkan adalah Patih Suwondo. Sri Mangkunegara IV memberikan contoh bagaimana seseorang melakukan bhakti kepada seorang Raja. Bagi seorang abdi atau hamba hanya ada satu fokus sehingga dia bekerja tanpa pamrih. Para perwira, para menteri, para komandan yang patuh pada komitmen sangat diperlukan dalam mempertahankan kewibawaan suatu negara.
Dalam Tripama bait 1 dan 2, disebutkan dalam bentuk tembang macapat (Dhandhanggula) sebagai berikut :
Yogyanira kang para prajurit, Lamun bisa samya anulada, Kadya nguni caritane, Andelira sang Prabu, Sasrabau ing Maespati, Aran Patih Suwanda, Lalabuhanipun,Kang ginelung tri prakara, Guna kaya purunne kang den antepi, Nuhoni trah utama,
Terjemahan :
Seyogianya para prajurit, Bila dapat semuanya meniru, Seperti masa dahulu,(tentang) andalan sang Prabu, Sasrabau di Maespati, Bernama Patih Suwanda,Jasa-jasanya, Yang dipadukan dalam tiga hal, (yakni) pandai mampu dan berani (itulah) yang ditekuninya, Menepati sifat keturunan (orang) utama.
Lire lalabuhan tri prakawis, Guna bisa saniskareng karya, Binudi dadi unggule,Kaya sayektinipun, Duk bantu prang Manggada nagri, Amboyong putri dhomas,Katur ratunipun, Purunne sampun tetela, Aprang tandhing lan ditya Ngalengka aji, Suwanda mati ngrana.
Terjemahan
Arti jasa bakti yang tiga macam itu, Pandai mampu di dalam segala pekerjaan,Diusahakan memenangkannya, Seperti kenyataannya, Waktu membantu perang negeri Manggada, Memboyong delapan ratus orang puteri, Dipersembahkan kepada rajanya,(tentang) keberaniannya sudahlah jelas, Perang tanding melawan raja raksasa Ngalengka, (Patih) Suwanda dalam perang.
Sifat dan tabiat Patih Suwondo yang terpadu dalam tiga watak, pandai, mampu, dan berani pada hakekatnya mengandung unsur tanggungjawab dalam arti yang luas. Watak dan tekat yang demikian patut menjadi bekal mengabdi kepada negara dan bangsa yang merdeka dan berdaulat.

